MEMBACA RELIEF CANDI BOROBUDUR (3-HABIS) – Kisah Avadana Menceritakan Romansa Manohara

Ceritera kedua yang dibaca dalam loka karya ini adalah ‘Romansa Manohara’ yang bersumber dari kisah ‘Avadana’ oleh Bhikku Anandajotti, Ehipassiko Foundation, yang ada di relief Avadana. Ceritera ini dibacakan Eko Sunyoto, dalang wayang kulit dan seniman tari.

RINGKASAN kisahnya, di Negeri Pancala ada dua raja, di utara dikenal negara Hastinapura dengan raja Mahadhana yang memerintah sesuai dengan Dharma. Raja di selatan memerintah dengan kejam, rakyatnya hidup sengsara dan banyak yang pindah ke negeri utara, Hastinapura. Raja Mahadhana mempunyai seorang putra bernama Sudhana Kumara, dialah Boddhisattwa yang tumbuh dewasa menguasai ilmu dan seni dan hidup dengan landasan Dharma. Ada seorang pemburu bernama Halaka yang berhasil menangkap Manohara yang berasal dari Kerajaan Kinnara. Manohara kemudian dihadiahkan kepada Sudhana Kumara.

Namun, ketika ditinggal perang, Manohara kabur menuju ke kerajaan Kinnara. Setelah mengatasi berbagai rintangan, akhirnya Sudhana Kumara dapat menjumpai Manohara. Raja Druma meminta agar mereka tinggal di istana Kinnara. Akhirnya, Sudhana Kumara dinobatkan
menjadi Raja Kinnara dengan permaisuri Manohara. Dia bertekad melaksanakan Dharma, memerintah dengan adil dan bijaksana.

MERAPI-AMAT SUKANDAR
Relief dengan kisah Manohara.

Ceritera ketiga adalah Kisah tentang Kendi ‘Kumbha Jataka’ yang disampaikan KRT Adjie Kromodiwirjo, seniman dari Borobudur. Pesan moral yang disampaikan dalam ceritera ini adalah, “Minum minuman keras adalah sumber dari berbagai penyakit. Memahami hal ini, orang
yang baik akan berusaha mempengaruhi orang lain agar meninggalkan minuman keras, meskipun dalam melakukannya dia menodai dirinya sendiri.” Ketika Bodhisattwa lahir kembali sebagai Sakra, dia tidak membiarkan sedikitpun kemabukan pada kekuasaan menguasai
batinnya dan tetap tertarik terhadap kebajikan bagi semua makhluk melalui perbuatan dharma, sila dan tyaga. Pada suatu hari dia memusatkan perhatiannya kepada Sarvamitra, seorang raja yang bersahabat dengan orang-orang yang tidak baik, gemar minum minuman keras.

Sakra, sebagai seorang Mahasatva kemudian berubah wujud menjadi seorang Brahmana yang berdiri di angkasa dengan sebuah kumbha atau kendi tergantung di pinggang kirinya. Kumbha ini berisi minuman keras yang memabukkan. Sang Brahmana menceritakan tujuh belas tingkat
akibat buruk minum minuman keras. Mendengar wejangan Brahmana tentang akibat buruk minum minuman keras itu, menyadarkan Sarvamitra untuk meninggalkan kebiasaan minum minuman keras untuk selama-lamanya. (Amat Sukandar)

Read previous post:
Gelandangan dan Pengemis Kian Bermunculan

Close