MEMBACA RELIEF CANDI BOROBUDUR (2) – Sang Rusa Sarabha Menolong Raja Pemburu

Dalam Loka Karya terbatas Seni Membaca Relief analisis kisah relief ikonik Candi Borobudur di Gallery Amarusa Parama milik Yehana SR di dusun Barepan Borobudur, beberapa pekan yang lalu, dibahas tiga kisah yaitu ‘Sarabha Jataka’, ‘Romansa Manohara’ dan cerita ‘Kumbha Jataka’.

BAMBANG EP menjelaskan, dalam menyebarluaskan kisah-kisah relief Candi Borobudur dia telah melakukannya di beberapa komunitas mau pun instansi pemerintah di berbagai kota di Indonesia, bahkan sampai ke Thailand di tengah umat Buddha di sana. Untuk peraga tokoh-
tokoh ceritera relief Candi Borobudur dia telah mengkreasi dalam bentuk wayang kulit.

Kisah ‘Sarabha Jataka’ bersumber dari Ceritera Jatakamala berjudul ‘Air Tuba dibalas Air Susu’, dibacakan oleh Sih Utami, seorang pegiat sastra dari Sidoarjo, Jawa Timur. Dalam ceritera ini dikisahkan, ada seekor rusa Sarabha yang dapat lolos dari bidikan panah seorang Raja Pemburu dan berhasil lari menyelamatkan diri dengan melompati sebuah lubang besar yang menganga di tengah hutan. Ketika sang raja pemburu mengejar rusa itu, dia jatuh terperosok ke dalam lubang besar itu. Sang rusa berbalik arah menuju ke lubang besar di mana sang pemburu terperosok dan tidak bisa menyelamatkan diri. Rusa Sarabha menawarkan pertolongan kepada sang pemburu. Pada mulanya pemburu itu merasa malu mendapat tawaran pertolongan rusa, karena dia semula mengincar rusa sebagai buruannya. Sang Rusa kemudian meloncat turun ke lubang besar itu untuk menyelamatkan Raja Pemburu yang baru saja mengincar nyawanya.

Raja Pemburu memeluk erat Rusa Sarabha yang telah menyelamatkan nyawanya. Sebagai ungkapan rasa terima kasih dan ingin membalas budi Sang Raja Pemburu kepada rusa berkata, “Ikutlah aku ke kerajaan. Mulai hari ini separuh kerajaanku menjadi milikmu, wahai Sang Rusa Sarabha penolongku.” Namun, Rusa Sarabha menolak halus tawaran itu, “Biarlah saya tinggal di tengah hutan ini. Inilah rumah saya.

MERAPI-AMAT SUKANDAR
Bambang Eka Prasetya dengan tokoh wayang yang digambarkan dalam relief.

Cukup ajarkanlah kepada semua orang apa yang telah sang raja alami hari ini,” jawabnya. Karena ada tiga hal yang menghambat siapa pun untuk bahagia, yaitu ‘loba’ sifat tamak, ‘dosa’ membenci dan ‘moha’ kekeliru-tahuan, yang sebaiknya dijauhi. Dan menggantikannya dengan sifat ‘ikhlas’ dalam melaksanakan kebajikan dengan tulus, ‘welas’ dengan berbuat penuh rasa kasih sayang, dan
‘mawas’ dengan selalu memeriksa batin agar terbebas dari kecenderungan berbuat buruk. Sang Raja Pemburu pun pulang ke kerajaannya. Dia tak pernah berburu lagi, tak pernah menyombongkan diri lagi. Raja pun menjalankan pemerintahannya dengan bijak dan penuh
rasa cinta kasih. (Amat Sukandar)

Read previous post:
500 UMKM Warnai Yogyakarta International Airport

YOGYAKARTA (MERAPI) - Sebanyak 500 UMKM ditargetkan masuk ke Yogyakarta Internasional Airport (YIA), dikemas dalam satu kawasan berdekatan dengan area

Close