SRIKUNTHI PENDEKAR BELATI (10-HABIS) – Badai Meluluhlantakkan Ara-ara Grinting

Orang-orang itu membawa pemimpin mereka yang terluka parah dan membutuhkan perawatan sesegera mungkin. Ki Gede Pituruh semakin menajamkan pendengarannya lagi. Dari percakapan mereka yang sempat didengarnya bisa diambil kesimpulan bahwa Ki Tumenggung Jagaraga terluka parah.

“KAMU apa bukan yang bertempur melawan Tumenggung Jagaraga?”, tanya Begawan Wanajati.
“Betul. Tetapi aku merasa tidak melukai cukup parah, aku hanya menggores kedua kakinya sedikit. Barangkali dalam keributan perang brubuh bisa jadi dia terkena lemparan belatinya Nyi Menggung Srikunthi”.
“Mungkin juga. Atau bisa pula Tumenggung Jagaraga justru tertimpa bebatuan yang sengaja digelundungkan oleh orang-orang Bagelen yang naik puncak Gunung Gajah dari lereng barat”.

Begawan Wanajati lalu mengajak Ki Gede Pituruh, “Jika tadi siang kita diserang dengan ribuan batu menggelundung maka sekarang kita balas menyerang mereka. Berkonsentrasilah, pusatkan nalar budimu, aturlah pernafasanmu. Cobanya pelan-pelan menyerap inti kekuatan alam, air, angin, api, tanah serta pula meminta bantuan makhluk lain penghuni gunung Gajah dan sekitarnya untuk bersama-sama menyerang orang-orang Kartasura itu!” ajak Begawan Wanajati menghimpun kekuatan kasat mata yang dimilikinya.

Tak beberapa lama kemudian terdengarlah tiupan badai yang dahsyat menebarkan debu dan pasir kepermukaan Ara-ara Grinting, udara yang bercampur debu menyesakkan pernafasan. Jika kondisi seseorang kurang sehat bisa pingsan atau bahkan meninggal. Disela dahsyatnya suara amukan badai itu sayup-sayup terdengar suara orang minta tolong, menjerit ketakutan dan kesakitan. Semakin malam tiupan badai itu melanda semakin dahsyat. Semua yang ada hancur berantakan, runtuh, rubuh, dan pecah terbelah-belah terjadi di Ara-ara Grinting. Lidah api nampak terang sekali menjilat langit berawan hitam, disusul gelegar halilintar menyambar-nyambar.

“Ouw. Waspadalah, Adi Somodikoro”, Begawan Wanajati memandangi langit yang hitam. Lidah api atau thathit menggores langit makin panjang disusul gelegar yang amat dahsyat memekakkan telinga. Beberapa kali Begawan Wanajati menjatuhkan diri menghindari sambaran thathit tersebut.

“Bagaimana Kakang Begawan? Kamu tidak apa-apa?”, tanya Ki Somodikoro alias Ki Gede Pituruh.

Begawan Wanajati terdiam, disatukannya konsentrasi, menghimpun nalar budi, untuk mengumpulkan semua kekuatan batinnya. Akhirnya beliau menarik nafas dalam-dalam, dan ingin segera mengakhiri semuanya. Ternyata thathit berkekuatan dahsyat tadi berasal dari permainan Begawan Cahyakumala saudara nunggal guru. Beliau memperingatkan agar perseteruan dengan prajurit Kartasura disudahi saja sampai di sini korban telah banyak berjatuhan. Hal-hal lain yang menyebabkan persengketaan di antara kalian kita pikirkan besuk lain hari. Mudah-mudahan Kanjeng Prabu Amangkurat Mas bisa menerima nasihatku ketika aku menghadap nanti.

Esuk paginya terdengar kabar, banyak prajurit Kartasura anak buah Tumenggung Jagaraga dan Ngabei Pancakapti tewas tanpa sempat ditolong oleh kekuatan prajurit Bagelen.
Kartasura dirundung duka mendalam, di langit masih tampak mendung hitam kelam menggelantung berat, peteng ndhedhet lelimengan. Gusti Allah memberi cobaan kepada Sinuhun Amangkurat Mas. Kekuasaan bukanlah segalanya, manusia harus hidup dengan segenap rasa kemanusiaannya bukan dengan kekuasaanya, kesewenang-wenangannya, kekejamannya, maupun kebengisannya.

Adipati Bagelen yang dijemput dan dibawa ke tempat itu oleh Ki Gede Pituruh nampak tertunduk lesu. Dengan kesedihan yang mendalam dia terpaksa menyerah dan mengakui Bagelen sebagai daerah taklukannya Begawan Wanajati. Dua hari kemudian daerah Kadipaten tersebut diserahkan oleh Begawan Wanajati kepada Nyi Menggung Srikunthi sesudah mereka berdua berjanji untuk berdua sehidup semati sampai kapanpun. (Akhiyadi)

Read previous post:
Performa Pemain Promosi PSS Memuaskan

SLEMAN (HARIAN MERAPI) - Progres lima pemain jebolan akademi PSS Sleman yang dipromosikan ke tim utama memuaskan tim pelatih. Ifan

Close