KISAH JAKA SANGKAN DAN JAKA PARAN (7) – Ditolong Saat Dikeroyok Puluhan Prajurit

Rara Sunyi ‘dipotheng-potheng’dipeluk, dicium namun berontak, membuat prajurit itu marah namun tetap berusaha menikmati kecantikan Rara Sunyi. Secara kebetulan Jaka Sangkan lewat di rumah tersebut, tujuannya mencari keberadaan ibu dan adiknya.

DILIHATNYA banyak prajurit Bugis yang tidur dilantai rumah katumenggungan, Jaka Sangkan ingin melihat kedalam. Dengan cekatan Jaka Sangkan menyusup masuk, betapa terkejutnya melihat ibunya pingsan dilantai dan adiknya mau diperkosa prajurit Bugis. Dengan sekuat tenaga Jaka Sangkan melayangkan tinjunya ke arah prajurit Bugis, sekali kena pukul jatuh terguling. Terjadilah perkelahian satu lawan satu, namun agaknya prajurit Bugis itu kewalahan. Sambil berteriak minta bantuan teman-temannya yang di luar, terus melakukan perlawanan.

Betul juga kurang lebih sepuluh orang prajurit langsung ‘ngebyuki’ Jaka Sangkan ikut ‘ngrubut’ membantu pimpinannya, membuat Jaka Sangkan kewalahan. Ketika Jaka Sangkan hampir jatuh, karena ‘karoban mungsuh’ tiba-tiba berkelebat bayangan dengan gesitnya menyambar-nyambar, dan meggampar para prajurit yang mengeroyok Jaka Sangkan. Beberapa prajurit tergeletak kena pukulan bayangan tersebut, yang kemudian mengajak Jaka Sangkan, Rara Sunyi dan ibunya yang telah siuman diajak menyingkir dari tempat itu. Jaka Sangkan kaget, ternyata bayangan yang menolongnya adalah Jaka Paran yang katanya berada di pihak musuh.

“Ceritanya panjang kangmas Sangkan, yang penting keluarga dan kangmas selamat. Mari saya antar ke tempat yang aman dulu,“ kata Jaka Paran. Ketika Jaka Sangkan mau bertanya lagi, Jaka Paran menunjuk jarinya ke mulut pertanda jangan banyak bicara lagi. Meski ragu dan heran, Jaka Sangkan akhirya menurut saja, ketika diajak Jaka Paran menyingkir dari tempat yang berbahaya tersebut. Pikirnya Jaka Paran berada dipihak musuh, kenapa kini menolongnya?

Jaka Sangkan mendengar kisah Jaka Paran yang kena bujuk rayu Raden Trunajaya untuk membantu ‘kraman’ di Mataram atas suruhan Pangeran Adipati Anom, ternyata itu semua tipu muslihat Trunajaya. Dimana ketika Mataram jatuh, justru Raden Trunajaya ingin ‘mbodhan da tanpa ratu’ artinya igin berkuasa da Mataram tidak diserahkan Pangeran Adipati Anom.

Babad Tanah Jawa mengisahkan, kini dua sahabat ‘tunggal guru’ sama-sama murid Kyai Majalima kemudian bersama menghadap Pangeran Adipati Anom, untuk bersama-sama melawan prajurit ‘kraman’ pimpinan Raden Trunajaya. (Ki Sabdo Dadi)

Read previous post:
HUT POLWAN 72: Polres Pati Gelar Aneka Kegiatan

PATI (MERAPI) - Memeriahkan HUT Polwan 72, Polres Pati menggelar aneka kegiatan, Sabtu (8/8). Yakni sepeda santai, Bansos dan peyemprotan

Close