KISAH JAKA SANGKAN DAN JAKA PARAN (5) – Raden Trunajaya Disuruh Melakukan ‘Kraman’

Perilaku Sinuhun Amangkurat berubah total, suka mencelakakan orang, memfitnah dan membuat orang sengsara atau menderita. Para bupati pun saling menjegal, menjatuhkan satu sama lain, membuat suasana Mataram menjadi kacau.

PANGERAN Adipati Anom sudah dimaafkan kesalahanya oleh raja, dan kembali ke keraton menempati dalem kadipaten lagi. Dalam suasana seperti itulah, banyak para bupati, sentana dalem menginginkan agar Pangeran Adipati Anom ‘jumeneng nata’ agar suasana tenteram, damai di Mataram.

Pangeran Adipati Anom bingung dan ‘lingsem’ malu, bagaimana nanti ucapan orang beliau merebut ‘ngendhih kalenggahan ingkang rama’. Tetapi kalau tidak segera bertindak, khawatir Mataram semakin rusak. Atas ‘iguh pretikel’ Pangeran Kajoran yang lantas menyerahkan kemauan Pangeran Adipati Anom tersebut, maka menantunya Raden Trunajaya disuruh melakukan ‘kraman’. Pageran Adipati Anom memulai ‘nabok nyilih tangan’ Raden Trunajaya untuk ‘ngraman’ di Mataram, beberapa wilayah ditaklukkan serta menghimpun kekuatan. Sebagai hadiah negara Sampang diserahkan, bilamana semua telah berhasil. Dan yang penting harus diingat, semua kalau Pangeran Adipati Anom sudah ‘jumeneng nata’.

Di wilayah timur ‘kraman’ yang dipimpin Raden Trunajaya dibantu prajurit Madura berhasil menaklukkan kekuasaan Mataram, Sinuhun Amangkurat lantas memerintahkan puteranya sendiri Pangeran Adipati Anom untuk ‘nggebug perang’. Jaka Paran yang membantu Raden Trunajaya nampak ‘cukat trengginas’, membuat gembira dan semakin dihormati prajurit yang lain. Bahkan ketika terjadi ‘campuh perang’ dengan prajuritnya Pangeran Adipati Anom, membuat morat-marit pasukan Mataram. Pangeran Adipati Anom merasa dikibuli Raden Trunajaya, mestinya ini perang ‘apus-apusan’, tetapi kenyataan pasukan Mataram ‘kelindhih’ bahkan Pangeran Purbaya ‘sesepuhing’ Mataram tewas. Jaka Paran pun merasa bersalah, Pangeran Adipati Anom pulang ke Mataram lapor ayahandanya.

Secara diam-diam Jaka Paran ikut pergi ke Mataram, ketika pasukan Raden Trunajaya mulai ‘ngrabas’ pusat pemerintahan di Mataram dan membuat Sinuhun Amagkurat ‘keplayu kendhang’ sampai Tegalarum dan ‘seda’ dan dimakamkan disana. Jaka Paran telah lepas dari prajuritnya Raden Trunajaya, ia berjanji bakal membantu Pangeran Adipati Anom utuk merebut ‘dhampar kekuasaan’ Mataram dari Raden Trunajaya.

Ketika itu Jaka Sangkan yang berguru Kyai Majalima di kaki Gunung Merapi, telah ‘buntas ilmune’ maka sudah saatnya kembali ke Mataram. Kyai Majalima berpesan, kalau sudah di Mataram, segera cari Jaka Paran untuk bergabung membantu perjuangan merebut kekuasaan Mataram yang saat ini dikuasai Raden Trunajaya. (Ki Sabdo Dadi)

Read previous post:
Sembuh dari Covid-19 Harus Lebih Disiplin

PURWOREJO (MERAPI) – Juru Bicara Protokol Covid-19 Kabupaten Purworejo dr Tolkha Amaruddin Sp THT KL meminta kepada warga masyarakat yang

Close