KISAH JAKA SANGKAN DAN JAKA PARAN (3) – Digoda Teledek, Dikeroyok Tiga Penabuh Gamelan

Bahkan tidak lama lagi Mataram akan terjadi ‘dahuru gedhe’, namun kalau Jaka Paran berhasil melewati maka akan segera mendapatkan ‘karahayon’ untuk hidupnya, yakni ‘suwita’ di Mataram.

PERJALANAN Jaka Paran keluar masuk hutan, sebelum sampai Prambanan ketemu dengan rombonga teledek, satu penari dan tiga orang penabuh gamelan. Melihat jaka bagus, agaknya sang teledek ingin menggodanya sekadar bermain-main asmara syukur-syukur mau memberi imbalan uang. Jaka Paran dipegang, ‘dilus-lus’ agar mau menanggapi ulah sang teledek. Namun Jaka Paran selalu ingat pesan guru sekaligus orangtuanya, harus terus waspada semua itu godaan. Maka tangan sang teledek pun ‘dikipatake’, bahkan Jaka Paran berlari menghindar. Agakya perbuatan Jaka Paran membuat marah para penabuh gemelan yang melihat teledeknya ‘dikipatake’ tanganya ketika mau merangkul sang jaka bagus, maka serentak bertiga mengepung dan mengekerubuti Jaka Paran agar menyerah. Jaka Paran tidak bisa berbuat banyak, terjadilah pertengkaran tidak imbang, satu lawan tiga orang.

Agaknya Jaka Paran punya kelebihan tata berkelahi daripada ketiga orang penabuh gamelan, yang hanya mengandalkan ‘rosaning awak. Beberapa kali ketiga orang penabuh gamelan itu kesaduk kakinya Jaka Paran atau ‘tempilingane’, membuat geloyoran jatuh bangun. Sang teledek yang tadinya diam saja, mendadak memukulkan tabuh gamelan ke kepala Jaka Paran dari belakang membuat kepyur-kepyur dan jatuh terguling ke tanah. Secara serentak ketiga penabuh gamelan itu lantas menelikung Jaka Paran yang sudah tidak berdaya, dan diajar sedemikian rupa.

Jaka Paran hampir menyerah, tidak tahunya berkelebat bayangan orang yang langsung menggaplok ketiga penabuh gamelan tadi. Bag-big-bug… gantian ketiga orang penabuh gamelan yang mengeroyok Jaka Paran terkapar, bahkan sang teledek yang mau membantu ketiga rekannya kena sikut orang yang baru datang dan ambruk di tanah.

Jaka Paran mengucapkan terima kasih kepada penolongnya, berkenalan ternyata Jaka Sangkan dari Mataram yang mau mencari guru ‘luhuring budi’ di kaki Gunung Merapi Kyai Majalima. Oleh Jaka Paran diberitahu kalau yang dicari itu adalah orangtuaya juga sebagai gurunya. Gantian Jaka Paran ditanya mau kemana, dan bagaimana ceriteranya dikeroyok tiga penabuh gamelan dan seorang teledek. Jaka Paran mengaku dirinya mau mengabdi di Mataram, sesuai pesan orangtuanya Kyai Majalima. Keduanya lantas berikrar mejadi dua orang sahabat, Jaka Sangkan ingin berguru kepada Kyai Majalima, dan Jaka Paran ingin melanjutkan perjalanan ke Mataram. Kepada ketiga penabuh gamelan dan seorang teledek setelah dinasehati, serta diberi uang saku disuruh pergi dan jangan diulangi memaksa orang lain atau membegal semata-mata demi uang. (Ki Sabdo Dadi)

Read previous post:
Investor Jajaki Destinasi Kereta Gantung di Perbukitan Menoreh

Close