KISAH JAKA SANGKAN DAN JAKA PARAN (1) – Lomba Watangan Digelar Layaknya Perang Tanding

Kisah ini terjadi pada cuplikan perang Trunojoyo ketika melakukan kudeta di Mataram zaman Sunan Amangkurat, yang semula Trunojoyo membantu Pangeran Anom namun kenyataan Trunojoyo betul-betul ingin menguasai Mataram. Jadilah Pangeran Anom menghimpun prajurit sendiri gantian melabrak Trunojoyo, yang sudah menguasai wilayah timur.

BABAD Tanah Jawa menceriterakan, kegemaran Sunan Amangkurat secara rutin menggelar gladhen watangan bagi para prajurit menjadi hiburan tersendiri bagi kawula Mataram. Pada saat acara digelar di Alun-alun selalu dipadati kawula Mataram untuk melihat atraksi tersebut, semacam lomba ketangkasan bagi prajurit. Biasany dengan naik kuda, para prajurit memperlihatkan kepiawaiannya olah kridhaning senjata tombak atau sejenisya. Namun karena dinilai berbahaya, maka tombak diganti sebilah watang yakni bambu kecil serupa tongkat yang kemudian lebih kondang disebut lomba watangan. Dari sinilah kelihatan, mana prajurit Mataram yang meningkat ketangkasannya mana yang masih begitu-begitu saja.

Dalam kesempatan itu lomba watangan digelar layaknya perang tanding prajurit satu dengan lawannya, Kanjeng Sunan Amangkurat mriksani aben-aben atau perang tanding tersebut dari awal hingga akhir acara. Masing-masing prajurit mencari lawan tanding sendiri, begitu dapat langsung masuk kalangan.

Adalah Raden Panji Sumirang seorang priyayi Mataram yang berpakaian necis, mompyor sejak tadi kudanya sesirig mencari tanding. Banyak kawula Mataram ingin melihat olah kridhaning Raden Panji Sumirang, apakah mampu dan menang setelah mendapat tanding dalam lomba watangan nanti. Raden Panji Sumirang meruapakan salah satu prajurit yang limpad, trengginas mampu memainkan berbagai senjata termasuk tombak.

Tidak disangka-sangka dari luar datang seekor kuda yang mblandhang, diatas punggung kuda duduk dengan tenangnya seorang anak muda yang gagah, manther cahyane dengan sigap memasuki arena atau kalangan aben-aben lomba watangan. Siapa anak muda yang kelihatan kiyeng, gagah perkasa itu ?. Sampai di hadapan Kangjeng Sunan hampir saja kuda tersebut tidak berhenti, untung dengan pitingan kedua kakinya bisa berhenti.
“Inilah gerangan lawan saya dalam lomba watangan kali ini, apakah kamu mampu melawanku gus, ?” tanya Raden Panji Sumirang sambil mententeng.

“Aku Jaka Sangkan orang Mataram asli, marilah Denmas kalau ingin bermain-main watang dengan saya,” jawab Jaka Sangkan.
“Apa yang ingin kamu pamerkan di hadapan Kanjeng Sunan, he anak muda ?” tantang Raden Panji Sumirang lagi.
“Apapun yang Denmas inginkan, semua akan aku layani. Marilah kita mulai,” jawab Jaka Sangkan. (Ki Sabdo Dadi)

Read previous post:
Pemkab Bantul Perbolehkan Pasar dan Obyek Wisata Beroperasi

BANTUL (MERAPI) - Bupati Bantul, Drs H Suharsono memastikan pusat perekonomian seperti pasar tradisional dan obyek wisata di Kabupaten Bantul

Close