SENOPATI ING ALAGA KEJATUHAN BINTANG (6-HABIS) – Diminta Berhenti Sombong Memamerkan Kedigdayaan

Tiga hari tiga malam Senopati nginep di laut selatan berdendang asmara dengan Kanjeng Ratu Kidul yang cantik jelita. Bahkan Senopati tahu kalau seluruh bagian tubuh wanita itu wangi, arum sarandune awak.

KECUALI mengobral cinta di taman laut selatan ternyata Senopati juga belajar dari Kanjeng Ratu bagaimana cara menjadi Raja memimpin bangsa lelembut, setan, periperayangan, dan juga manusia. Sehingga sewaktu-waktu ada musuh menyerang Senopati bisa mememinta bantuan para lelembut anak buah dari Kanjeng Ratu Kidul.

“Ni Mas, terima kasih atas segala petunjukmu. Tetapi jika nanti aku akan minta bantuanmu siapakah yang harus kuutus?”, tanya Senopati Ing Alaga.
“Ouw, itu mudah saja, Paduka. Jika Paduka ingin memanggilku maka bersidekaplah tangan dalam sikap semedi menengadah ke langit, pasti aku akan segera datang membawa seluruh prajurit lelembut lengkap dengan senjata perangnya”.

“Terima kasih, Ni Mas. Kali ini aku akan segera pulang ke Mataram segala pesan-pesanmu akan aku laksanakan”, berkata Senopati memeluk dan mengecup kening Ratu Kidul.
Yang dikecup merem melek keenakan, “Terima kasih atas kunjunganmu, Paduka raja Agung”.

Senopati ing Alaga lalu pergi berjalan di atas air ke arah utara, dia tenang-tenang saja toh tak akan berpampasan dengan manusia apalagi kendaraan bermotor. Sesampainya di Parangtritis beliau terkejut. Karena ternyata di situ ada Sunan Kalijaga yang duduk tafakur, Senopati segera bersujud kepada wali yang amat sakti itu.

“Maafkan aku, Kanjeng Sunan. Aku telah memamerkan kekuatan dengan menempuh perjalanan di atas air”, berkata Senopati.
“Senopati, berhentilah bersombong diri memamerkan kedigdayaan. Itu namanya takabur. Para wali tidak mau berbuat demikian takut akan murka Allah. Jika kamu ingin menjadi Raja selalulah bersyukur sebagai makhluk ciptaanNya. Marilah kita pulang ke Mataram aku akan melihat rumahmu!” ajak Sunan Kalijaga.

Mereka kemudian bersama-sama pulang ke Mataram. Sesampainya di Mataram Sunan Kalijaga memandang berkeliling di seputar tempat itu.
“Senopati, rumahmu tidak berpagar. Itu tidak baik, kamu bisa dikatakan orang yang sombong. sebab tidak ada rasa curiga sedikitpun karena mengandalkan kekuatan, kesaktian, dan kedigdayaanmu. Ibaratnya jika kerbau atau sapi tidak dibuatkan kandang maka dia lepas ke mana-mana. Sebaiknya kerbau atau sapi itu kan diikat lalu jika malam dikandangkan dijaga oleh orang yang selalu berserah diri kepad Allah. Demikianpun halnya jika membuat rumah sebaiknya di beri pagar yang dinamakan pagar bumi. Orang-orang Mataram jika musim kemarau suruhlah membuat batu bata lalu buatlah kota raja yang berpagar bumi”, nasihat Sunan Kalijaga panjang lebar.

“Sendika dawuh, Kanjeng Sunan. Akan aku laksanakan”, jawab Senopati.
Sunan Kalijaga kemudian mengambil tempurung, diisi air, sambil berjalan berkeliling dan berzikir air dalam tempurung tersebut dituangkan mancur jatuh ke tanah.
“Kelak jika kamu akan membangun kotaraja ikutilah tuangan air yang jatuh di tanah ini!”, kata Sunan Kalijaga.
Senopati Ing Alaga mengangguk mengiyakan. (Akhiyadi)

Read previous post:
Hasil TMMD Temanggung Lampaui Target

TEMANGGUNG (MERAPI) - TMMD ke 108 Tahun Anggaran 2020 yang dikerjakan Kodim 0706 Temanggung, pemda dan masyarakat mampu lampaui target.

Close