SENOPATI ING ALAGA KEJATUHAN BINTANG (4) – Ikan Olor Menawarkan Diri untuk Ditumpangi

“Kamu tetap harus berjuang sendiri dengan kekuatanmu. Jika menang kamu akan jadi raja tetapi jika kalah akan menjadi tawanan”, nasihat Kyai Juru Martani panjang lebar.

SENOPATI setelah mendengar nasihat Pamannya itu begitu menyesal, lalu berkata perlahan,
“Paman, bagaimana sebaiknya aku menurut pendapat paman saja. Ibarat aku ini kapal Paman nakodanya”.
“Kalau menurut pendapatku, mari bersama-sama kita berdoa kepada Allah memohon agar segala yang sulit semoga dipermudah. Kita berbagi tugas, kamu pergi ke laut kidul dan aku akan naik ke Gunung Merapi untuk mengetahui kehendak Allah. Mari kita berangkat bersama-sama!”, ajak Kyai Juru Martani.
“Baiklah, Paman. Akan aku laksanakan”, jawab Senopati Ing Alaga.

Kyai Juru Martani lalu pergi ke Gunung Merapi. Sementara itu Senopati Ing Alaga berjalan ke timur menuju kearah Kali Opak kemudian beliau nyemplung dan berenang mengikuti arus.
Melihat Senopati kampul-kampul terbawa arus seekor ikan Olor yang berukuran tubuh cukup besar itu lalu mengapung dan menawarkan diri agar Senopati naik ke punggungnya. Tetapi tawaran tersebut ditolaknya.

Ikan Olor nampak kecewa. Dia sebenarnya merasa berhutang budi kepada Senopati. Sebab beberpa tahun silam dirinya pernah ditangkap beramai-ramai oleh nelayan di kali Samas. Lalu diserahkan kepada Senopati. Beliau sangat senang melihat ikan Olor itu kemudian dihiaslah ikan tadi dengan warna emas, diberi nama Tunggul Wulung, lalu dilepaskan ke air.

Ikan olor hanya bisa berenang pelan-pelan mengawal Senopati Ing Alaga sampai naik ke darat tepat di tepi pantai dekat muara kali Opak. Beliau berdiri bersidekap sambil berdoa kepada Allah. Tiba-tiba datanglah angin prahara bercampur hujan bertiup kencang sekali, menumbangkan pepohonan. Gelombang laut mendadak meninggi setinggi gunung, air laut menjadi panas seperti mendidih, ikan-ikan banyak yang mati.

Dikisahkan saat itu penguasa laut selatan seorang putri nan cantik jelita, sedang beristirahat di dalam kamarnya gemerlap dan semerbak harum..
“Wouw, ada gara-gara apa ini? Selama hidup aku baru mengerti sekarang ini?”, kata kanjeng Ratu Kidul seraya keluar dari kamarnya. Ia terheran-heran kenapa air laut jadi panas sekali ribuan ikan mati karenanya. Ia lalu berjalan ke arah muara kali Opak, dilihatnya ada seseorang berdiri sambil berdoa, agaknya kekuatan doanya itulah yang menjadikan gara-gara di laut selatan. Kanjeng ratu mendekati Senopati yang masih khusuk berdoa. Ia menyembah dan bersujud di kakinya. (Akhiyadi)

Read previous post:
Polres Karanganyar Bongkar Sindikat Pemalsu STNK

KARANGANYAR (MERAPI) - Satreskrim Polres Karanganyar meringkus pelaku pemalsu STNK mobil berinisal EA (33) dan GNY (30). Dua pelaku ini

Close