SENOPATI ING ALAGA KEJATUHAN BINTANG (3) – Benda Mencorong Hinggap di Ulu Hati

Di Lipura terdapat gilang, sebuah batu berwarna hitam, gepeng, luas, dan halus permukaanya. Senopati Ing Alaga lalu tidur di atas batu gilang tersebut sampai pulas dan ngorok senggar-senggur bahkan sampai ngeces.

SEMENTARA itu, Kyai Juru Martani gelisah berada di rumahnya. Kemudian dia datang ke pura menanyakan kepada prajurit jaga apakah Senopati malam ini belum tidur?.
“Kyai Juru, Senopati itu pergi ke Lipura bersama para pengawalnya”, jawab prajurit jaga.
“Terima kasih, prajurit. Aku akan menyusul kesana”, kata Kyai Juru Martani bergegas pergi langkahnya tergesa-gesa menuju ke Lipura, hatinya gelisah, ada firasat yang dia rasakan tetapi apa firasat itu belum jelas benar.
Tatkala prajurit pengawal mengatakan bahwa Senopati tidur di batu gilang maka Kyai Juru Martani segera membangunkan, “Senopati, katanya mau jadi raja? Kenapa molor melulu? Ayo bangun!”.

Jegagik. Kyai Juru Martani kaget, dari langit tiba-tiba ada bintang jatuh, bercahaya terang sebesar buah semangka. Jatuhnya tepat di ulu hati Senopati, sinarnya menyilaukan mata.
“Senopati, segeralah bangun! Lihatlah apa yang menyala di ulu hatimu itu?”, kata Kyai Juru Martani.
Senopati segera terjaga dia melihat sesuatu yang menyala di bawah dadanya, “Apa dan siapakah engkau ini mencorong di atas tidurku. Selama hidup aku belum pernah melihatmu?” tanya Senopati kepada bintang itu.

“Ketahuilah aku ini bintang penjuru memberitahu kepadamu. Bahwa, ketekunanmu meng- heningkan hati memohon perkenan Allah sekarang sudah dikabulkan menjadi Raja yang menguasai seluruh tanah Jawa turun temurun ke anak cucumu menjadi raja di Mataram. Cicitmu kelak yang akan mengakhiri kekuasaan di Mataram tersebut.
Waktu itu negara Mataram rusak, kerap kali ada gerhana bulan dan matahari, bintang kemukus tiap malam muncul, gempa terjadi berkali-kali, gunung meletus itu pertanda bahwa kerajaan akan hancur.

Sesudah bintang tadi lenyap dari pandangan Senopati masih mengingat-ingat kata-katanya, hatinya senang sekali, “Sekarang permohonananku kepada Allah sudah dikabulkan, niatku untuk menjadi raja menggantikan Sultan Pajang secara turun-temurun dan menjadi lampu penerangya tanah Jawa sudah dikabulkan. Semua orang akan takluk kepadaku”.
Kyai Juru Martani mengerti apa yang menjadi isi hati Senopati, beliau lalu menasihatinya,

“Senopati, kamu jangan terlalu percaya dengan sesuatu yang belum tentu terjadi. Menurutku semua itu tidak betul, artinya jika kamu menuruti kata-kata bintang tadi tidaklah benar. Sebab suara itu adalah suara gaib bisa salah bisa juga benar tidak dapat kita tangkap lidahnya seperti kata-kata manusia. Kelak jika kamu jadi berperang dengan Pajang bintang tadi tentu tidak bisa kamu mintai bantuan, kamu tetap harus berjuang sendiri dengan kekuatanmu. Jika menang kamu akan jadi raja tetapi jika kalah akan menjadi tawanan”, nasihat Kyai Juru Martani panjang lebar. (Akhiyadi)

Read previous post:
Rayuan Istri Kedua

MENDEKATI masa kelahiran anak Darti, Purbo dibuat sibuk harus membagi waktu. Dengan alasan adanya anjuran bahwa suami harus sesalu siaga

Close