JAZAD UNTUNG SURAPATI WANGI (4) – Kompeni Menggelar Sayembara untuk Menemukan Makam Untung

Tumenggung Wiranegara semakin hari semakin nampak parah saja sakitnya. Bahkan dia tidak bisa bergerak sama sekali kecuali hanya berbaring. Kemudian dia memanggil anak-anaknya untuk memberikan pesan terakhirnya,

”ANAK-ANAKKU Mas Surakim, Sarapati, dan Suradilaga. Agaknya hari-hari terakhir rama sudah tiba. Besuk jika rama meninggal buatkan kubur yang rata dengan tanah dan di atasnya ditanami aneka perdu biar Belanda tidak tahu kalau itu makamku. Kalian bertiga dan saudara-saudara yang lain janganlah sekali-sekali kenal dengan Belanda. Jika ada yang kenal dengan Belanda semoga kena supataku tidak akan selamat hidupnya”, kata Tumenggung Wiranegara
“Ngestokaken dhawuh, rama”, jawab anak-anak Tumenggung Wiranegara.

Ketika ketiga anak Tumenggung Wiranegara itu kembali ke medan tempur suasana sudah menjadi tidak seimbang banyak prajurit Pasuruhan yang gugur menjadi korban. Tumenggung Katawengan yang memimpin bala Prajurit Pasuruhan melarikan diri bersama anak buahnya ke Kediri. Sedangkan Sunan Kendang berikut bala prajuritnya lari ke arah tenggara mereka ketakutan melawan Pangeran Purbaya dan pasukannya.
Tepat di tahun 1631 akhirnya bedahlah Pasuruhan, Pangeran Purbaya dan Tuan Komisaris lalu memasuki kota raja Pasuruhan dan mesanggrah di situ dalam waktu cukup lama. Warga masyarakat yang semula pergi mengungsi menjauhi pertempuran kini sudah mulai kembali lagi ke rumahnya masing-masing. Mereka merasakan bahwa Pangeran Purbaya dan prajuritnya telah berhasil menciptakan ketentraman dan kedamaian.

“Hai, rakyat Pasuruhan. Jika kalian ingin hidup tentram dan damai bersama kami maka carilah kuburnya si Untung Surapati yang dahulu pernah memberontak di daerah ini!”, kata Tuan Komisaris memerintahkan.
“Siap Tuan Komisaris. Segera kita laksanakan!”, jawab mereka.
Beramai-ramai warga masyarakat Pasuruhan membongkar setiap kuburan yang ada di daerah tersebut. Berhari-hari mereka melakukan pekerjaan itu namun tak menemukan jazad Untung Surapati. Barangkali memang sudah menyatu dengan tanah karena memang sudah dua tahun yang lalu pemberontak itu meninggal dunia.

Tuan Komisaris kemudian menyampaikan sayembara berhadiah kepada setiap warga Pasuruhan “Barang siapa dapat menunjukkan tempat dimana Untung Surapati dikubur akan diberi hadiah Seribu real”.
Sesudah berhari-hari sayembara itu dipajang di tempat-tempat strategis dan diumumkan secara berkeliling oleh petugas sambil memukul bende akhirnya ada seseorang yang mau menunjukkan makam Untung Surapati.
“Siapa namamu? Apa betul kamu mengetahui di mana makam Untung Surapati?”, tanya Tuan Komisaris memandangi lelaki tua bertubuh kecil itu.

“Namaku Naya Jali dari Dusun Kertawangin”.
“Kamu bisa menunjukkan di mana makam Untung Surapati? Pemberontak yang mati dua tahun silam itu?”.
“Makam Untung Surapati itu hanya beberapa meter dari rumahku, Tuan Komisaris”.
“Wouw, sungguh hebat kamu. Nanti jika terbukti setelah dibongkar ada jazadnya Untung Surapati kamu akan aku beri hadiah uang Seribu real. Tetapi jika kamu menipu alias jazat Untung Surapati tidak ada maka kedua kupingmu harus disayat dengan samuraiku ini, ngerti?”.
“Ya, Tuan Komisaris. Mari kutunjukkan kuburan itu!”, ajak Naya Jali begitu yakinnya. (Akhiyadi)

Read previous post:
Berbahan Garut Ditakuti Serangan Maag

ANEKA bahan alami dapat diolah menjadi asupan menyehatkan. Ketika rutin mengkonsumsinya diharapkan mampu menjadi terapi alami untuk mencegah dan melawan

Close