JAZAD UNTUNG SURAPATI WANGI (3) – Pinggang Tumenggung Wiranegara Terserempet Peluru Meriam

Beberapa opsir kompeni Belanda juga ambruk jadi korban tertembus lembing dadanya. Adipati Cakraningrat dan Pangeran Purbaya segera menerjang lawan dengan tombaknya. Senjata itu sangat sakti setiap prajurit Pasuruhan yang mencoba menghadangnya pasti menjadi korban.

PERTEMPURAN kian nampak imbang setelah Pangeran Purbaya harus menghadapi lima orang prajurit sekaligus. Begitu juga dengan Panembahan Cakraningrat yang kemudian menjadi sangat sibuk meladeni kerubutan lima orang prajurit yang sangat kompak dalam menyerang satu sama lain. Hal ini menjadikan kedua pemimpin prajurit Kartasura tidak mudah melepaskan diri dari kerubutan dan serangan mereka yang silih berganti saling bantu membantu begitu harmonisnya gerakan mereka.

Melihat keadaan medan tempur yang makin imbang Adipati Wiranegara segera mengamuk mencari korban-korban baik prajurit Kartasura maupun opsir-opsir Kompeni. Pedangnya yang panjang dengan ketajaman luar biasa itu nampak berkilat-kilat diterpa cahaya matahari seakan mata petir yang setiap kali siap menyambar korbannya.
“Tuan, itu orang berkuda mengamuk hebat?”, kata seorang opsir Belanda sambil mengacungi Tumenggung Wiranegara yang bertempur di atas punggung kuda hitamnya.

“Akan kutembak orang itu. Tetaplah kamu berjuang di sini!”, kata pimpinannya sambil beringsut mundur mendekati pasukan meriam yang berada di bagian belakang.

Setelah mendapat perintah meriam itupun ditembakan ke arah Tumenggung Wiranegara ‘glegerrrr…’ yang ditembak berusaha menyendal kendali kudanya. Kuda pintar itu melonjak ke samping kiri untuk menghindari dan hampir berhasil. Naasnya pinggang sebelah kanan Tumenggung Wiranegara masih terserempet peluru meriam yang besar itu, “Oouuhh..’ terdengar Tumenggung sakti itu mengeluh kesakitan, darah mengucur deras dari pinggang yang terluka.

Dengan dilindungi para prajurit Pasuruhan kuda hitam itu berlari ke garis belakang pertempuran tuannya yang terluka duduk lemas di punggungnya. Tabib yang menolong Adipati Pasuruhan itu nampak cemas, rekan-rekannya juga gugup, gemetar penuh kekhawatiran. Luka yang diderita Tumenggung Wiranegara memang cukup parah, menganga cukup lebar dan darah tak henti-hentinya terus mengucur deras.

Di dalem Kadipaten keluarga berkumpul dan berdoa bersama mudah-mudahan Ki Tumenggung dijauhkan dari mara bahaya dan semoga Allah lekas memberikan kemudahan-kemudahan kepada para Tabib untuk menemukan obat yang mujarab. Sehingga pemimpin mereka yang gagah berani itu segera diberi kesembuhan. Tumenggung Wiranegara dibaringkan di sebuah kamar. Para Tabib memberikan obat untuk memampatkan aliran darahnya yang terdiri dari bubukan daunan binaung kering, kerang hijau, glugut cikal ditumbuk bersama daun kemlandingan yang masih muda.

Namun kiranya Allah berkehendak lain, usaha-usaha para tabib itu kurang membawa hasil. Tumenggung Wiranegara semakin hari semakin nampak parah saja sakitnya. Bahkan dia tidak bisa bergerak sama sekali kecuali hanya berbaring. Kemudian dia memanggil anak-anaknya untuk memberikan pesan terakhirnya, (Akhiyadi)

Read previous post:
Lantai Atas Pasar Prawirotaman Dioptimalkan untuk Ekonomi Kreatif

Close