JAZAD UNTUNG SURAPATI WANGI (1) – Pasukan Gabungan Siap Menyerang Pertahanan Sunan Kendang

Untung Surapati adalah seorang tokoh dalam sejarah Nusantara yang dicatat dalam Babad Tanah Jawi. Kisahnya menjadi legendaris karena mengisahkan seorang anak rakyat jelata dan budak VOC yang menjadi seorang bangsawan dan Tumenggung Pasuruan.

SETELAH dua tahun meninggalnya Untung Surapati, maka Kanjeng Prabu di Kartasura memerintahkan Panembahan Cakraningrat, Adipati Jang Rana, dan Pangeran Purbaya untuk menyerang lagi ke Pasuruhan di mana daerah itu dahulu merupakan daerah kekuasaannya pemberontak yang digdaya tersebut.

Tidak cuma prajuritnya saja yang akan menyerang Pasuruhan namun Tuan Komisaris dari Semarang juga sudah datang ke Kartasura. Dia mempersiapkan bubuk mesiu untuk pembuatan peluru bagi bedil-bedil mereka. Perlengkapan lainnya termasuk senjata dan meriam juga sudah dipersiapkan. Selain prajurit Mataram dalam jumlah besar masih juga dibantu oleh orang-orang Madura dan Surabaya. Mereka berangkat bersama-sama dari Kartasura membentuk barisan yang besar dan panjang seperti seekor Naga raksasa melata menuju ke Wirasaba terlebih dahulu dengan maksud menyerang pertahanan Sunan Kendang di Kediri.

Sunan Kendang setelah mendengar berita dari para prajurit sandinya bahwa dia akan diserang oleh pasukan besar dari Kartasura bergegas lari menyingkir ke Gunung Dungkul.
Dengan demikian ketika Pangeran Purbaya dan serdadu kompeni tiba di Kediri daerah itu sudah kosong. Pangeran Purbaya dan pasukan kompeni lalu melanjutkan perjalanan ke gunung Carat dan mesanggrah di sana dalam waktu cukup lama sambil mengatur strategi.

Sementara itu, Adipati Pasuruhan Tumenggung Wiranegara sedang mempersiapkan pasukannya bersama ketiga putranya. Sulungnya yang bernama Mas Surakim digadang-gadang besuk bisa menggantikan kedudukannya sebagai Tumenggung Wiranegara II, putranya yang kedua bernama Pangeran Sarapati, dan yang bungsu bernama Pangeran Suradilaga.

Suatu hari Pangeran Sarapati dan Pangeran Suradilaga bersama-sama datang ke Gunung Dungkul dengan membawa prajurit sejumlah seribu orang.
“Kanjeng Sunan Kendang, kami berdua mohon ijin untuk menjemput musuh sebelum mereka memasuki wilayah Pasuruhan”, kata Pangeran Suradilaga.
“Balamu berapa ingin menjemput musuh itu?”, jawab Sunan Kendang bertanya.
“Seribu orang prajurit, Sunan”.

“Hmmmm. Ya, cukuplah kalau seribu. Aku ijinkan kalian menjemput musuh. Aku sertakan juga kedua putraku Pangeran Pakunegara dan Pangeran Pakuningrat untuk membantu kalian berdua”.
Sesudah mendapatkan izin dari Sunan Kendang maka berangkatlah mereka menyusuri Pegunungan Tuntang terus ke utara menuju ke Carat. Sedangkan di pihak lain Pangeran Purbaya berserta bala prajurit dari Kartasura yang bergabung dengan kompeni berangkat dari Gunung Carat juga ke arah utara. (Akhiyadi)

Read previous post:
Peringati 45 Tahun, Avrist Assurance Bantu Masyarakat Prasejahtera Terdampak Covid-19

YOGYA (MERAPI) - PT Avrist Assurance (Avrist Assurance), perusahaan asuransi Indonesia bermisi sediakan polis bagi masyarakat di Indonesia rayakan hari

Close