TUMENGGUNG POLENG DANUPAYA (12-HABIS) – Akhirnya Menyerah dan Menjadi Bandan

Ki Buyut Wanadadi segera meloncat keluar dari mulut goa diikuti oleh Panembahan Wiryo. Tanpa basa-basi lagi Ki Buyut Wanadadi segera menghamburkan kepingan-kepingan cakra yang tajam mengarah ke lawannya.

PANEMBAHAN Wiryo sibuk menghindari dan memukul cakra-cakra itu dengan tombak pendeknya. Pertempuran kedua orang tua berilmu tinggi itupun terjadilah Buyut Wanadadi menyerang dengan sebuah cundrik panjang. Panembahan Wiryo meladeni dengan tombak pendeknya yang bermata tajam di ujung dan pangkalnya.

Kulup Pandanwono segera melompat keluar pintu goa Bancak ketika dia melihat dua orang melarikan diri lewat pintu samping.
“He, kalian berdua mau kemana? Masak sih gurumu kalian tinggal minggat ketika sudah terlibat pertempuran dengan guruku? Apakah kalian berdua ini lelaki pengecut?”, kata Kulup Pandanwono.

“Kurang ajar!”, bersama-sama mereka memaki dan bersama-sama pula mereka mulai menyerang membabi buta. Pedang besar dan panjang milik Tumenggung Poleng Danupaya segera berputar cepat seperti baling-baling menyerang Kulup Pandanwono. Bersamaan dengan itu tongkat hitamnya Panembahan Kembar juga menyerangnya. Kulup Pandanwono berusaha melindungi diri dengan melecutkan cambuknya mendatar diakhiri dengan tarikan sendal pancing.

“Dherr, dherrr, dherrr…?”suaranya memekakkan telinga. Ketika Panembahan Kembar berusaha menghindari kejaran ujung cambuk lawan. Tumenggung Poleng Danupaya mencoba menyusup di antara tarian ujung cambuk yang menggeletar itu begitu cepatnya. Ada kalanya dia berhasil menggoreskan ujung pedangnya dikulit lengan Pandanwono. Keponakan Panembahan Wiryo itu terpaksa meloncat jauh ke belakakng untuk memperbaiki posisi. Namun Tumenggung Poleng Danupaya mengejarnya terus. Kali ini Kulup Pandanwono senganja melecut pergelangan tangan kanan lawannya. Ujung cambuk itu melililit pedang Tumenggung Danupaya kemudian dengan kecepatan tinggi ditariknya cambuk itu dengan kekuatan penuh, “Haaahh”.

Tumenggung Danupaya terbengong-bengong ketika menyaksikan pedangnya lepas dari genggaman tangannya seperti direbut oleh ujung cambuk musuhnya. Belum lagi dia sempat menata posisi dirinya sebuah gelang besi yang dilemparkan oleh Kulup Pandanwono meluncur deras menghantam pundak kanannya. “Uuuuukh…” Tumenggung Poleng Danupaya mengaduh kesakitan, tulang-tulang dipundaknya remuk.

Sementara itu, Panembahan Wiryo terjatuh ke tanah ketika membenturkan kekuatan tenaga dalamnya. Ternyata tenaga dalam Ki Buyut Wanadadi masih selapis tipis di atas Panembahan Wiryo. Untung dalam kondisi terjatuh orang tua itu berhasil meraih sindik di gelung rambutnya yang putih memanjang. Dengan sisa kekuatannya dilemparkannya sindik tersebut ke arah dada Ki Buyut Wanadadi yang tengah terhuyung-huyung berusaha mendekati lawannya untuk membunuhnya dengan senjata genggamnya.
”Aaaaakh…” Ki Buyut Wanadadi mengeluh pendek lalu jatuh di tanah tak berdaya.

“Bagaimana Panembahan Kembar?”, tanya Kulup Pandanwono memandangi Panembahan Kembar yang sudah terkapar di tanah dengan kaki kanannya terlilit ujung cambuk lawannya.
“Aku menyerah, aku menyerah” desahnya serak-serak.
Tumenggung Poleng Danupaya juga kemudian mengangkat tangannya tanda menyerah kepada Kulup Pandanwono.

Anak muda perkasa itu menarik nafas dalam-dalam, lalu ditariknya senjatanya dan dilingkarkan di pinggangnya, ditutupi bajunya. Dengan hati-hati dia membersihkan luka-luka di lengannya yang pada umumnya warangan di senjata lawan-lawannya cukup kuat.
Panembahan Kembar dan Tumenggung Poleng Danupaya tidak bisa berbuat apa-apa ketika kedua tangan mereka diikat oleh Kulup Pandanwono. (Akhiyadi)

Read previous post:
Bunga Kertas Musuh Gatal-gatal

BUNGA kertas atau bugenvil cukup populer dimanfaatkan sebagai tanaman hias. Tanaman yang rajin berbunga ini bahkan dapat juga dikelompokan dalam

Close