TUMENGGUNG POLENG DANUPAYA (11) – Masuk Goa Bancak Disambut Burung Kedasih

Kulup Pandanwono dalam hati dia bertekad akan selalu membantu Uwa Panembahan kemanapun dirinya akan diajak mengembara ke seluruh sudut-sudut wilayah Kerajaan Majapahit.

SEMENTARA itu, di Padepokan Gunung Pring Putri Pandan Arum telah melahirkan bayi perempuan yang cantik jelita dan diberi nama Rara Sekar Wijen. Neneknya, Nyi Gede Kertosani sangat sayang kepadanya. Si kecil itu memang menyenangkan dengan tubuhnya yang montok, sehat, berkulit bersih, murah senyum, dan jarang menangis.

Setiap hari neneknya berkenan mengasuhnya dengan setia. Inilah yang menyebabkan Pandan Arum punya waktu luang untuk kembali berlatih olahkanuragan bersama Pangeran Tekik suaminya dan para cantrik mentrik Padepokan Gunung Pring di bawah asuhan Ki Gede Sayidin Kertosani.

Lajer ilmu mereka pada dasarnya sama maka tidaklah terdapat kesulitan-kesulitan yang berarti. Bahkan Pandan Arum meningkat pesat seiring dengan bimbingan langsung dari suaminya dan sesekali juga Ki Gede Gunung Pring.

Di lereng timur Gunung Lawu sisi selatan dari kejauhan dua ekor kuda nampak berlari kencang, kaki-kaki binatang itu menghamburkan debu-debu yang mengepul putih di udara. Jubah putih penunggang kuda itu berkibar-kibar diterpa angin sepanjang jalan.

“Uwa Panembahan, apakah di daerah ini terdapat Goa Bancak?” tanya Kulup Pandanwono
“Masih agak jauh di utara. Kita harus berjalan melingkar melewati pinggiran jurang Jajar Pitu masuk ke Kademangan Bancak. Nah, goa yang wingit itu berada di lereng gumuk kecil namanya gumuk Bancak di tengah hutan Wanadadi”.
“Di sana bertempat tinggal Ki Buyut Wanadadi itu, Uwa?”, tanya Pandanwono.
“Ho.oh. Kau harus berhati-hati. Ingat, tidak usah memancing persoalan dengan Ki Buyut Wanadadi jika sekiranya di Goa Bancak tidak ada Panembahan Kembar atau Tumenggung Poleng Danupaya!”.

“Baiklah, Uwa”. Jawab Kulup Pandanwono sambil memperlambat lari kudanya diikuti oleh Panembahan Wiryo. Mereka berhenti di sebuah jalan simpang di tengah hutan, Panembahan Wiryo agak lupa dengan keadaan di sekitarnya.
“Ndi bocahe, ndi bocahee, ndi bocaheee… thit thit thit thirr thiiirrr”, terdengar suara burung Kedasih begitu kerasnya di dahan pohon yang menjulang tinggi.

Panembahan Wiryo sedikit terperanjat, “Kulup, kita sudah disambut oleh Burung Kedhasih itu berarti Ki Buyut Wanadadi ada di Goa Bancak”, kata Panembahan Wiryo.
“O, burung Kedhasih itu piaraannya, Uwa?”.
“Ya. Hati-hatilah!”.

Mereka berdua lalu turun dari punggung kudanya, berjalan menyusuri jalan setapak di pinggiran jurang yang begitu dalamnya. Goa Bancak itu ternyata keadaannya cukup bersih ki Buyut Wanadadi termasuk orang yang rajin membersihkan lingkungannya.
“Permisi, ki Buyut?”, sapa Panembahan Wiryo sesampai di mulut goa.
“Heheheeee….” terdengar suaranya yang nyaring, tertawa seperti seorang perempuan.
“Aku Panembahan Wiryo”
“Ouw, Wiryo? Mari mari masuk Wiryo? Itu anakmu diajak masuk goa sini saja!”.

Mereka bertiga lalu berbincang-bincang sebagaimana layaknya seseorang yang ketamuan sahabatnya.
Ketika Ki Buyut Wanadadi menyuguhkan hidangan minum Panembahan Wiryo buru-buru meneguknya karena kehausan sepenajang perjalanan.
“Jangan diminum, Uwa!”, cegah Kulup Pandanwono yang mengerti bahwa minuman yang dituang dalam gelas itu mengandung racun kuat yang mematikan.

“Biarlah aku tenggaknya, Kulup”, jawab Panembahan Wiryo seraya menenggak isi minuman beracun itu sampai tuntas lalu cawik bathok yang digunakan untuk minum dibantingnya keras-keras di hadapan Ki Buyut Wanandadi.
Dengan suara yang kecil melengking Ki Buyut Wanadadi tertawa dengan nada kemayu seperti seorang parempuan, “Ouw, ilmumu sudah meningkat, Panembahan Wiryo? Wajar kalau kamu datang kemari ingin menantangku?”. (Akhiyadi)

Read previous post:
Dukung Kesehatan Kulit dengan Edamame

KEDELAI Jepang atau biasa disebut juga edamame memiliki ukuran biji lebih besar dibanding jenis kedelai biasa. Selain itu, sama halnya

Close