TUMENGGUNG POLENG DANUPAYA (10) – Melanjutkan Pengembaraan, Meninggalkan Anak dan Menantu

Panembahan Wiryo bersama Oandanwono dan Pangeran Tekik berhasil mengalahkan Tumenggung Poleng Danupaya dan kawan-kawan. Sebelum kehabisan darah Tumenggung Poleng Danupaya bergegas menyingkir dari arena pertemputar.

KI GEDE SAYIDIN Kertosani kali itu berbicara dengan Panembahan Wiryo dan keluarganya sambil menikmati hidangan makan siang.
“Kakang Panembahan Wiryo. Sebaiknya kakang sekeluarga bertempat tinggal di sini saja, tanah perdikan Gunung Pring ini cukup luas untuk kita tempati bersama. Aku Cuma tinggal bersama istriku. Sedangkan anakku satu-satunya juga mati jadi korban dalam Perang Paregreg. Maka sambil menanti kelahiran cucumu kamu di sini saja agar aku bisa ikut momong cucumu nanti”, kata penguasa Padepokan Gunung Pring itu.
“Terima kasih, Adi. Sungguh ini tawaran yang menggembirakan bagi keluargaku. Sehingga untuk sementara aku bisa tinggal di sini dengan tenang jauh dari hiruk pikuk keributan di Majapahit”.

Nyi Sayidin Kertosani mendekati Putri Pandan Arum, “Ndhuk Arum, kamu itu anakku bukan siapa-siapa maka tinggallah di sini selamanya, aku mencintaimu sebagai anakku”, kata orang tua itu lirih sekali dekat telinganya.
Pandan Arum tersenyum memandangi wajah nenek itu lalu ia memeluknya erat-erat, “Nek, terima kasih sekali atas kebaikan Nenek”, ucapnya.
“He.eh”, bisik Nyi Gede Sayidin Kertosani menciumi kening Pandan Arum dengan lembut penuh kasih sayang.

Akhirnya Panembahan Wiryo, anak, dan menantunya tinggal di Padepokan Gunung Pring sambil menanti kelahiran cucunya. Mereka membantu pekerjaan sehari-hari Ki Gede Sayidin Kertosani. Dari bercocok tanam di Gunung Pring sampai menanam padi di daerah lembah yang terbentang di sebelah timur Gunung yang tidak seberapa besarnya itu.

Setelah menyerahkan anak putri dan anak menantunya Panembahan Wiryo bersama Kulup Pandanwono melanjutkan pengembaraannya mencari pengalaman baru sekaligus mematangkan ilmu-ilmu yang dikuasainya. Apalagi salah satu dari Panembahan Kembar berhasil meloloskan diri ketika melawan Kulup Pandanwono. Panembahan Wiryo menduga, jika saja salah satu dari Panembahan Kembar itu berhasil meminta bantuan Ki Buyut Wonodadi di Goa Bancak lereng timur Gunung Lawu maka akan menjadi persoalan besar di wilayah barat Majapahit.
“Bisa jadi hal ini akan memperparah keadaan Majapahit, Uwa Panembahan”, kata Kulup Pandanwono.

“Ya. Namun selagi Majapahit masih diperintah Kanjeng Prabu Wikramawardhana masih akan baik-baik saja. Tetapi jika diantara salah satu sentana dalem sampai ada yang berani mengusik kedudukannya maka peperangan dipastikan akan berkobar kembali. Makanya kita harus berhati-hati dengan penuh perhitungan, dengan siapakah kita akan bersinggungan? hanya dengan orang-orang tertentu saja yang sekiranya mengancam keselamatan kita”.
Kulup Pandanwono mengangguk-angguk kepalanya. Dalam hati dia bertekad akan selalu membantu Uwa Panembahan kemanapun dirinya akan diajak mengembara ke seluruh sudut-sudut wilayah Kerajaan Majapahit. (Akhiyadi)

Read previous post:
Dipusatkan di Desa Bentakan, Kodim 0726 Sukoharjo Gelar TMMD Sengkuyung Tahap II

SUKOHARJO (MERAPI) - Kodim 0726 Sukoharjo gelar TMMD Sengkuyung Tahap II di Desa Bentakan, Kecamatan Baki mulai 30 Juni-29 Juli.

Close