TUMENGGUNG POLENG DANUPAYA (9) – Melarikan Diri Setelah Tergores Sindik Konde

Pandanwono segera menempatkan diri menghadapi Panembahan Kembar yang bersenjatakan tongkat hitam galih asem. Cambuk di tangan kanannya sudah tergengam erat, sedangkan tangan kirinya menggenggam gelang-gelang besi.

PANEMBAHAN Kembar memulai serangannya dengan menjulurkan tongkat hitamnya bersama-sama dengan gerakan yang sangat cepat. Hal ini cukup mengagetkan Pandanwono yang memang belum pernah bertemu. Dia segera meloncat mundur sambil melecutkan cambuknya ‘gleerrr’ ujung cambuk itu meledak dekat sekali ke telinga lawannya.

“Gila anak ini!”, maki Panembahan Kembar sambil mencoba menghindari ujung cambuk yang bergerak sedemikian cepatnya. ‘gleerr, gleerr, gleeerr…’ suara cambuk itu terus mengejar kemana mereka berdua meloncat menghindar. Kali ini Panembahan Kembar bersamaan menyerang maju dengan kecepatan tinggi. Pandanwono tahu lawannya mulai meningkatkan ilmunya. Dia segera meloncat ke samping kiri dengan kecepatan tinggi pula sambil melecutkan cambuknya sehingga ujung cambuk itu nggubet ujung ikat kepala lawannya. Pandanwono menarik cambuknya dengan gerakan sendal pancing sehingga ikat kepala itu menculat ke udara. Meski begitu ujung cambuk yang berkarah besi tadi sempat mencuwil daun telinganya hingga darah menetes-netes membasahi pakaiannya.

“Wadauuuuhh…” Panembahan kembar itu mengaduh lirih merasa daun telinganya perih sekali. Aneh. Kini hanya seorang yang menyerang Pandanwono dengan serangan membabi buta, beruntun seperti badai bergulung-gulung menerpa dengan kuatnya, “Mati kamu anak muda!” teriaknya. Bersamaan dengan itu meluncurlah dua tongkat hitam bersamaan dengan derasnya, satu mengarah ke leher satunya lagi mengarah ke dada. Pandanwono tidak mengira kalau model serangannya seperti itu dia sekedar menghindari dengan memiringkan tubuhnya. Naas pundaknya masih terserempet ujung tongkat yang satunya, darah menetes dari luka.

Tidak ingin jadi sasaran berikutnya Kulup Pandanwono segera melecutkan cambuknya ujungnya sempat melilit leher salah satu Panembahan Kembar dan ditariknya kuat-kuat. Sehingga tubuhnya terseret keras sekali. Panembahan itu sudah tidak mampu mengaduh lagi karena lehernya terlaluka parah. Pandanwono tidak mau ambil resiko dia segera mengejar Panembahan kembar satunya lagi. Namun larinya ternyata cepat sekali. Kali ini panembahan kembar menjejakkan kaki melenting tinggi-tinggi menghindari ujung cambuk sekaligus melemparkan senjata rahasianya berupa cakra-cakra baja yang ujungnya tajam sekali.

Pandanwono dapat menghindari dengan mudah. Kali ini dia melemparkan gelang besi di tangan kirinya. Akibatnya sang lawan yang sudah lari menjauh itu masih juga terserempet punggungnya sehingga dia terluka berlumuran darah namun dia terus melarikan diri menjauh.

Sementara itu Tumenggung Poleng Danupaya dengan dilindungi oleh orang-orangnya mampu bangkit lagi lalu melarikan diri. Ternyata sindik konde di rambut Panembahan Wiryo ketika dicabut dan dilemparkan ke arah dada Poleng Danupaya mampu menghindari dengan menundukkan kepalanya meski begitu sindik tersebut masih sempat menggores kulit kepalanya bagian samping kanan di atas kuping, terluka dan darah terus mengalir. Sebelum kehabisan darah Tumenggung Poleng Danupaya bergegas menyingkir dari tempat itu. (Akhiyadi)

Read previous post:
Cegah Serangan Anemia dengan Rolade

ROLADE menggunakan bahan baku daging ayam ataupun sapi termasuk jenis asupan bermanfaat bagi kesehatan. Selain bahan baku wujud daging, ada

Close