TUMENGGUNG POLENG DANUPAYA (8) – Mengejar Perusak Padepokan Gunung Pring

Sesampainya di Padepokan Gunung Pring mereka berempat terheran-heran melihat padhepokan itu porak poranda tak keruan. Sama sekali tidak ada seorang cantrik pun nampak berada di situ.

PANEMBAHAN Wiryo, Pangeran Tekik, dan Pandanwono segera mencongkel reruntuhan bangunan itu untuk menolong orang yang tertimpa reruntuhan bangunan tadi. Setelah selembar dinding dibuka nampaklah seorang yang sudah cukup umur diikat tangannya.
“Oh, adhi Sayidin Kertosani. Kenapa kau, adhi?”, tanya Panembahan Wiryo.
“Aku dianiaya Tumenggung Poleng Danupaya. Dia bersama gurunya dan balanya mengambil semua harta benda dan juga semua cantrik mentrikku”.

“Mau dibawa kemana mereka?”
“Katanya ingin menghidupkan kembali Padhepokan Gunung Pare yang sudah agak lama berantakan karena ditinggal Begawan Sidorejo”
“Apa Begawan Sidorejo itu masih hidup, adhi?”
“Masih. Sebetulnya, Begawan Sidorejo itu hanya nama panggilan saja, aslinya dia bernama Jangger Suleman berasal dari Jagaraga. Tolonglah cantrik-cantrikku, Kakang. Lepaskan mereka dari cengkeraman hantu Majapahit itu”, pinta Eyang Sayidin Kertosani.

“Baik akan lakukan. Tetapi aku titip anak perempuanku ini biarlah ia tinggal di sini!”.
“Ya, ya, ya. Ndhuk, pergilah ke rumah sebelah! Nenekmu ada di sana sedang menggigil ketakutan”.
Pandhan Arum mengangguk-angguk. Ia lalu beringsut pergi ke rumah sebelah.
Sementara itu Panembahan Wiryo, Pangeran Tekik, dan Kulup Pandanwono segera pergi mengejar Tumenggung Poleng Danupaya mumpung kepergian mereka belum terlalu jauh dari tempat itu.

Tiga ekor kuda itu oleh penunggangnya dipacu kencang ke arah selatan lalu berbelok ke arah barat daya menuju ke pegunungan yang terlihat kecil membiru di kejauhan di dekat sungai Brantas, itulah Gunung Pare. Panembahan Wiryo terus memimpin di paling depan menelusuri lorong-lorong hutan, bulak-bulak persawahan, dan beberapa perkampungan penduduk..
“Nah, lihat! Itulah mereka berjalan dengan lambat berada beberapa ratus meter di depan”, kata Panembahan Wiryo mengacungkan tangan kanannya ke depan. Setelah mendekati rombongan itu Panembahan Wiryo berteriak lantang,
“Hai, Cantrik-cantrik Padhepokan Gunung Pring. Ketahuilah aku Panembahan Wiryo kakak seperguruan dari Adhi Kyai Sayidin Kertosani untuk menyelamatkan kalian dari genggaman Tumenggung Poleng Danupaya. Selain itu aku juga akan memperkenalkan anakku Kulup Pandanwono kepada Panembahan Kembar yang sakti mandraguna itu?”.

“Tutup mulutmu, Wiryo! Kalau tidak mau diam kusumpal mulutmu dengan batu!” balas Poleng Danupaya berteriak keras-keras.
Merekapun segera turun dari kuda masing-masing, “Cantrik-cantrik, kalian berpencarlah menjauhi arena pertempuran!, kata Pangeran Tekik mengatur cantrik padhepokan Gunung Pring yang menjadi tawanan itu.
Pandanwono segera menempatkan diri menghadapi Panembahan Kembar yang bersenjatakan tongkat hitam galih asem. Cambuk di tangan kanannya sudah tergengam erat, sedangkan tangan kirinya menggenggam gelang-gelang besi. (Akhiyadi)

Read previous post:
Kerang Dara Lancarkan Sirkulasi Darah

SELAIN kerang hijau, jenis kerang dara juga cukup populer untuk diolah menjadi beberapa masakan, misalnya balado, rica-rica, tongseng dan sate.

Close