TUMENGGUNG POLENG DANUPAYA (7) – Setahun Bertapa Mendapat Tiga Pusaka

Panembahan Wiryo mengaja Pandanwono menuruni lereng Gunung Lawu. Ia adalah satu-satunya anak dari adiknya bernama Wirokerti yang masih hidup. Sedangkan Wirokerti sendiri bersama dua orang anak lelakinya yang lain terbunuh oleh Tumenggung Poleng Danupaya dalam perang Paregreg.

PANEMBAHAN Wiryo sengaja ingin memisahkan persoalan ini dari kepentingan kerajaan Majapahit dan lebih menitik-beratkan kepada penuntasan dendam pribadi. Sebab kenyataannya Tumenggung Poleng Danupaya setiap saat bertemu dengan Pangeran Tekik selalu saja memancing keributan hanya karena ingin merebut istrinya dan karena merasa dirinya lebih kuat segala-galanya.

“Baiklah, Uwa Panembahan dan Kangmas Pangeran Tekik. Setahun aku bertapa, aku mendapatkan tiga jenis senjata. Yang pertama aku terima dari seorang Nini tua adalah sebuah tusuk kondhe, yang kedua berupa ular berlari kemudian ketika kutangkap beralih rupa menjadi keris. Keris ini kemudian aku beri nama Kyai Lawu.

Sedangkan senjata yang keterima terakhir dari perwujudan seorang gembala tua yang memberiku cambuk kerbau bertangkai pendek ujungnya berjuntai panjang. Nah, masing-masing senjata ini untuk kita bertiga. Tusuk konde ini untuk Uwa Panembahan Wiryo yang rambutnya panjang sering digelung, keris kyai Lawu untuk Kangmas Pangeran Tekik, dan cambuk akan aku gunakan sendiri”, kata Kulup Pandanwono.

“Terima kasih, Kulup. Atas pemberianmu yang berharga ini”, kata Panembahan Wiryo.
“Aku juga mengucapkan terima kasih yang tak terhingga kepada Dimas Pandanwono atas pemberian senjata ini. Mudah-mudahan bermanfaat bagiku kini ataupun nanti”, kata Pangeran Tekik memberi hormat.

Kepada ki Demang Kledhung Panembahan Wiryo lalu berpamitan untuk meneruskan pengembaraan, “Mohon maaf yang sebesar-besarnya telah merepotkan, Ki Demang sekeluarga”, kata Panembahan Wiryo.
“Ah, adhi Wiryo selalu berkata begitu? Bukankah sesama muslim itu saudara? Maka menolong sesama dengan tulus ikhlas itu kuwajiban kita bersama”, jawab Ki Demang Kledhung.
“Terima kasih yang tak terhingga, Ki Demang”.

Mereka pun segera beranjak dari Kademangan Kledhung yang letaknya berada di lereng Gunung Lawu.
Pengembaraan mereka kini membelok ke selatan menuju daerah ngarai yang rendah. Naluri Panembahan Wiryo seakan menunjukkan di daerah selatan akan bertemu dengan saudara nunggal paguron dahulu yang kini mendirikan Padhepokan di Gunung Pring.

Kini kuda Pancalnya menjadi semakin lambat larinya karena menyangga beban yang lebih berat, Pangeran Tekik dan istrinya. Sebab kuda yang dikendarai Pangeran Tekik kini harus dinaiki Kulup Pandanwono. Sesampainya di Padepokan Gunung Pring mereka berempat terheran-heran melihat padhepokan itu porak poranda tak keruan. Sama sekali tidak ada seorang cantrik pun nampak berada di situ.

“Oh oh, oh, bunuhlah aku, bunuhlah aku siapa itu ayo bunuhlah aku!” terdengar teriakan dari balik reruntuhan bangunan Padhepokan.
“Maaf ya bila kedatanganku menganggu, aku Panembahan Wiryo”.
“Oh, Kang Wiryo?. Apakah kamu kakang Wiryo yang dulu murid Padepokan Gunung Wilis Wonokaring?”
“Benar, adhi”.
“Tolonglah aku kakang, tolonglah”. (Akhiyadi)

Read previous post:
PKS Target Kemenangan 60 Persen di Pilkada Jateng

KARANGANYAR (MERAPI) - Partai Keadilan Sejahtera (PKS) menarget kemenangan 60 persen di Pilkada serentak di 21 kabupaten/kota di Jawa Tengah.

Close