TUMENGGUNG POLENG DANUPAYA (6) – Menemui Keponakan di Puncak Gunung Lawu

Perjalanan Pangeran Tekik, Putri Pandan Arum dan ayahnya Panembahan Wiryo telah sampai di sebuah Kademangan namanya Kademangan Kledhung. Mereka berpakaian sebagaimana layaknya orang pedesaan agar tidak menimbulkan kecurigaan berbagai pihak.

DEMIKIANLAH, saban hari Pangeran Tekik membantu pekerjaan-pekerjaan Ki Demang di sawah menanam tembakau dan sayur-sayuran. Sedangkan Pandan Arum membantu pekerjaan-pekerjaan Nyi Demang di rumah, dari memasak, menyapu halaman, sampai merajang daun tembakau dan menjemurnya.

Suatu hari Panembahan Wiryo matur kepada Ki Demang. Bahwa dia akan naik ke puncak Gunung Lawu menemui anak lelakinya yang sedang bertapa di sana untuk beberapa hari lamanya dan tidak perlu di tengok, “Suatu saat aku akan pulang sendiri meski mungkin kepergianku lebih dari sebulan”.

Ki Demang mengizinkannya setelah beliau wanti-wanti bahwa hal itu menjadi tanggung jawabnya sendiri. Tidak seperti Pangeran Tekik dan Putri Pandan Arum yang tetap berada di sini itu menjadi tanggungjawabku.

Panembahan Wiryo mengangguk-angguk. Lalu dia pamit pergi mendaki Gunung Lawu seorang diri. Perjalanan yang lumayan berat bagi Panembahan Wiryo selain berjumpa dengan berbagai jenis hewan galak juga diganggu ratusan makhluk gaib yang hampir kesemuanya usil dan suka menganggu. Namun semua itu dengan linambaran kekuatan batinnya Panembahan Wiryo ber hasil mengatasinya. Panembahan Wiryo thingak-thinguk kesana kemari setelah sampai di Puncak Gunung Lawu itu.

“Hai, Uwa Panembahan. Akhirnya kau datang juga kemari?”, sapa seorang lelaki yang masih nampak muda dengan pakaian yang tak karuan, sobek sana sobek sini, pating kranthil.
“Aku bawakan pakaian untukmu, Kulup Pandanwono”, kata Panembahan Wiryo.
Mereka berdua kemudian berangkulan saling melepas rasa rindu karena mereka sudah hampir setahun tidak bertemu.

“Kulup, bagaimana keadaanmu di sini selama ini?”, bertanya Penembahan Wiryo kepada keponakannya. Dia sudah menjalani laku batin bertapa di pucak Gunung Lawu dengan bebagai godaan yang telah berhasil diatasinya.
“Baik-baik saja, Uwa. Semua pesan Uwa Panembahan selama bertapa sudah aku lakukan”.

“Bagus. Ada perubahan besar dalam dirimu. Ini aku bawakan sebungkus nasi dan buah-buahan, makanlah sebelum kita turun Gunung!”
“Terima kasih, Uwa”. Anak muda yang bernama Kulup Pandanwono itu lalu memakan beberapa buah-buahan sebagaimana setiap hari dia lakukan. Bahkan ketika makan nasi Pandanwono harus sedikit demi sedikit agar perutnya tidak menjadi sakit karena selama setahun dia hampir tidak pernah makan nasi.

“Mbakyumu, sudah ada di daerah sekitar sini, aku titipkan kepada Ki Demang Kledhung”, kata Panembahan Wiryo.
“Ouw, jadi Mbakyu Pandan Arum sudah di Kledhung?”, tanya Pandanwono girang.
“Marilah kita turun!”, ajak Panembahan Wiryo.
Berdua mereka menuruni lereng Gunung Lawu. Inilah satu-satunya anak dari adiknya bernama Wirokerti yang masih hidup. Sedangkan Wirokerti sendiri bersama dua orang anak lelakinya yang lain kesemuanya terbunuh oleh Tumenggung Poleng Danupaya dalam perang Paregreg. (Akhiyadi)

Read previous post:
Positif Corona Tembus 302, Pasien Sembuh Capai 252 Orang

Close