TUMENGGUNG POLENG DANUPAYA (5) – Menyamar dengan Berpakaian Layaknya Orang Desa

Tumenggung Jakayuda memberi arah perjalanan Panembahan Wiryo sekeluarga tidak bertemu dengan Tumenggung Poleng Danupaya dan Penembahan Kembar untuk menghindarkan diri dari kemungkinan terjadinya gesekan.

SEPENINGGAL mereka bertiga Tumenggung Jalayuda dan Tumenggung Tirtayana berkuda cepat sekali ke arah timur. Mereka memang dua orang prajurit pilihan yang sedang bertugas nganglang (patroli) wilayah Majapahit bagian barat yang menjadi tanggungjawab mereka.
“Panembahan Wiryo itu orang yang baik hati. Beliau lebih menyayangi keluarga daripada jabatan yang akan diberikan oleh Kanjeng Prabu Wikramawardhana”, gumam Tumenggung Jalayuda.
“Memangnya dia dulu akan diberi jabatan apa?”, tanya Tumenggung Tirtayana.

“Awal pemerintahan Kanjeng Prabu yang lalu, semasa dia masih menjabat sebagai Tumenggung Wiryo dengan kedudukan Senopati perang dia pernah ditawari jabatan Bupati di Trenggalek. Tetapi berhubung putrinya kemudian disunting oleh Pangeran Tekik dia menolak jabatan bupati tadi agar selalu bisa menjaga anak putri sematawayangnya itu. Sebab Pangeran Tekik, kamu juga tahu kan dia seorang sentana dalem yang selalu dikiwakke oleh saudara-saudaranya. Bahkan mereka menggunakan kenekadan Tumenggung Poleng Danupaya yang jelek tetapi sakti itu untuk menyingkirkannya dari trah Wirabumi. Sebab nampaknya trah Wirabumi kini lebih banyak yang sudah diangkat dalam berbagai jabatan penting kerajaan Majapahit atas usulan Putri Mahkota Dyah Suhita”.

“Ya. Herannya di situ. Wikramawardhana menang dalam perang Paregreg. Tetapi yang diambil untuk menduduki jabatan-jabatan penting justru dari trah Wirabumi?”, sahut Tumenggung Tirtayana.
“Itu dimaksudkan oleh Sinuhun Prabu Wikramawardhana agar kelak jika Kanjeng Putri mahkota Dyah Suhita yang lahir sebagai putri blasteran kedua trah tersebut tidak terkesan sewenang-wenang. Sehingga trah Wirabumi di beri porsi kekuasaan yang agak sedikit lebih”.
“Hmmmm, begitu?”, Tumenggung Tirtayana mengangguk-angguk, kini dia paham akan theg kliwere permasalahan di lingkungan Kerajaan Majapahit. Sesudah Perang Paregreg usai dengan berbagai kehancuran yang ditimbulkan maka secara politis punggawa-punggawanya, sentana dalem, dan orang-orang penting dilingkungan kraton saling mengincar untuk mendapatkan kedudukan tertentu.
**

Perjalanan Pangeran Tekik, Putri Pandan Arum dan ayahnya Panembahan Wiryo telah sampai di sebuah Kademangan namanya Kademangan Kledhung. Mereka berpakaian sebagaimana layaknya orang pedesaan agar tidak menimbulkan kecurigaan berbagai pihak.
Kepada Ki Demang Kledung Panembahan Wiryo matur jika diperkenankan dia sekeluarga akan bertempat tinggal di situ untuk beberapa bulan lamanya karena anak putrinya kini menderita sakit dalam perjalanan. “Maaf, Ki Demang. Kami merepotkan sekali”, berkata Panembahan Wiryo.
“Ah, tidak. Panembahan mesti sudah mengerti bahwa diantara kita wajib saling tolong menolong. Kami di sini sudah memeluk agama Islam, agama yang mengajarkan sesama pemeluk Islam atau muslim itu saudara. Makanya jika ada kalian yang tengah kerepotan dalam menempuh perjalanan atau musyafair itu kuwajiban kita menolongnya. Jadi bukan soal repot atau tidak repot tetapi soal kuwajiban”, kata Ki Demang Kledung.
“Ya ya ya, terima kasih banyak, Ki Demang”, sahut Pangeran Tekik dan istrinya bersamaan.
Ki Demang tersenyum ramah sambil mengangguk-angguk. (Akhiyadi)

Read previous post:
Gunungkidul Catat 878 Kasus DBD Sejak Januari

WONOSARI (MERAPI) - Dinas Kesehatan Kabupaten Gunungkidul mencatat 878 kasus demam berdarah dengue (DBD) sejak Januari hingga sekarang. ​​​​​​"Kasus DBD

Close