TUMENGGUNG POLENG DANUPAYA (4) – Tumenggung Jalayuda Memberi Petunjuk Jalan

Panembahan Wiryo mengambil keputusan untuk menyingkir dari perebutan kekuasaan di Kerajaan Majapahit yang tengah dipersiapkan banyak pihak. Apalagi Panembahan Wiryo secara pribadi bukanlah termasuk sentana dalem melainkan hanya orang tua yang begitu sayang kepada anak putri satu-satunya setelah ibunya meninggal.

“ILMU-ILMU olahkanuragan yang selama ini aku kuasai untuk apa kalau bukan untuk melindungi putriku?” bisik batin Panembahan Wiryo suatu saat. Beliau seorang yang lebih menyukai kehidupan keluarga yang tentram dan damai dari pada berburu jabatan di Majapahit kerajaan yang sudah mulai mendekati kegoyahannya tersebut. Sekarang yang mencoba untuk memperbaiki Majapahit adalah Wikramawardhana bersama anak putrinya Dyah Suhita. Wanita blasteran trah Wikramawardhana dan trah Wirabumi itu jelas akan menemui kesulitan demi kesulitan karena carut marutnya hubungan sosial politik yang serba tidak menentu dengan genggaman kepentingan pribadi masing-masing yang sedemikian kuatnya.

Jagagik. Panembahan Wiryo kaget di depan mulut lorong hutan beberapa ratus meter di depannya. Nampak ada dua orang menghadangnya dengan bersenjatakan tombak panjang. Mereka berdua duduk di punggung kudanya masing-masing berdiri di sebelah menyelah lorong yang masuk hutan itu. Panembahan Wiryo menarik kendali kudanya diikuti oleh Pangeran Tekik dan istrinya. Merekapun lalu berhenti berhadap-hadapan dengan dua orang berkuda tadi.
“Tumenggung Jalayuda, apa maksudmu menghadang perjalananku?”, tanya Panembahan Wiryo curiga.

“Aku tidak bermaksud menghadangmu, Penembahan. Aku dan Tumenggung Tirtayana ini tadi mengantarkan Poleng Danupaya bersama Panembahan Kembar dan beberapa pengawalnya yang akan ke gunung Penanggungan dan terus menuju ke sisi selatan melewati hutan Roban. Nah, kalian mau kemana?”, tanya Tumenggung Jalayuda.
“Tumenggung Jalayuda, jadi kamu sekarang memihak Tumenggung Poleng Danupaya?”, Panembahan Wiryo bertanya dengan sepasang matanya mendelik.

“Sabar! Bukan begitu Panembahan. Sampai sekarang aku dan Tumenggung Tirtayana ini tidak memihak kepada siapapun”.
“Benar, Panembahan. Kami berdua tidak memihak siapa-siapa. Bahkan kami berdua bingung mana yang benar mana yang salah saking banyaknya pihak-pihak yang berseteru di Majapahit”, sambung Tumenggung Tirtayana menyahut bicara.
“Lantas apa maunya kalian berdua?”.

“Kami berdua hanya bermaksud agar Panembahan Wiryo sekeluarga dari simpang lorong hutan Roban ini kalian membelok ke kiri, kemudian menempuh perjalanan melewati Kediri, Madiun, dan membelah hutan di sekitar Gunung Lawu. Setelah sampai di Kademangan Kledung terserah Panembahan Wiryo mau melanjutkan pengembaraan kemana?”.
“Kenapa harus melewati Gunung Lawu?”, tanya Panembahan Wiro.

“Nah, hal ini kami sampaikan agar di perjalanan Panembahan Wiryo sekeluarga tidak bertemu dengan Tumenggung Poleng Danupaya dan Penembahan Kembar untuk menghindarkan diri dari kemungkinan terjadinya gesekan-gesekan”, Tumenggung Jalayuda menjelaskan.
Panembahan Wiryo mengangguk-angguk, “Baiklah, aku terima pendapatmu Tumenggung Jalayuda dan Tumenggung Tirtayana ternyata kamu berdua masih sahabatku”, jawab orang tua itu sambil melecut kudanya mengambil jalan simpang ke kiri dari hutan Roban.
“Terima kasih Tumenggung berdua”, ucap Pangeran Tekik melambaikan tangannya diikuti oleh Pandan Arum istrinya.
“Ya, selamat jalan! Hati-hati”. (Akhiyadi)

Read previous post:
Jenazah Penyerang Wakapolres Karanganyar Ditolak Warga

Close