TUMENGGUNG POLENG DANUPAYA (1) – Terus Terang Ingin Merebut Istri Pangeran Tekik

Pelarian Pangeran Tekik bersama istri tercintanya sungguh problematis. Mereka terpaksa meninggalkan kerajaan Majapahit yang dilanda berbagai kemelut dan permusuhan. Perang Paregreg baru saja usai, yakni perang sesama kerabat Kerajaan memperebutkan tahta Majapahit antara Wikramawardhana dengan Wirabumi.

PERANG Paregreg telah menyisakan kebencian, dendam, dan dengki berkepanjangan yang belum tertuntaskan baik secara pribadi maupun kelompok di antara mereka yang bertikai selama 9 tahun sepanjang perang itu berlangsung.

Perang ini sangat merusak dan melemahkan seluruh sendi kehidupan kerajaan Majapahit serta menimbulkan dampak psikologis, sosial, politik dan budaya di lingkungan rakyat. Semua tercabik-cabik, berantakan, dan tak keruan kondisinya di sana sini.
Sejak menjabat sebagai Senopati perang prajurit wiratamtama kerajaan Majapahit semasa pemerintahan Kanjeng Prabu Wikramawardhana (1389 – 1429) Pangeran Tekik memiliki seteru bebuyutan yang tak akan pernah padam dendamnya sebelum salah satu diantara mereka mati. Seteru itu adalah Tumenggung Poleng Danupaya, disebut Poleng karena wajahnya memang nampak belang sebelah kiri dari bawah mata turun ke pipi dan berakhir di janggut.

Konon belang tadi akibat luka disembur ular berbisa ketika dia tidur di Candi Bubrah. Waktu itu, rombongan prajurit wiratamtama Majapahit dalam perjalanan pulang setelah menaklukkan pemberontakan di Jepara. Mereka kemalaman dalam perjalanan tersebut lalu mesanggrah di dusun Kuntulan. Mereka terpaksa tidur disembarang tempat. Ki Danupaya memilih klekaran di sebuah Candi Bubrah. Ketika sudah tertidur, seekor ular Bandotan muncul dari sela-sela reruntuhan batu candi lalu merambati wajahnya.
Merasa ada kleler-kleler di wajahnya maka dipeganglah ular tadi akan disingkirkan. Tapi malang baginya ular Bandotan tersebut menyemburkan bisanya ke wajah Tumenggung Danupaya. Wajahnya terluka dan lama kelamaan membusuk. Setelah sembuh maka belanglah kulit wajahnya sebelah kiri sehingga oleh teman-temannya dijuluki Ki Tumenggung Poleng Danupaya.

Dengan wajah yang sama sekali tidak cakep inilah Tumenggung Poleng Danupaya gandrung kapirangu dan nekad jatuh hati kepada Putri Pandhan Arum istri Pangeran Tekik sekaligus anak semata wayangnya Panembahan Wiryo gurunya.
“Pangeran Tekik, sekali ini aku akan berterus terang kepadamu. Karena istrimu sudah lama jatuh hati kepadaku maka hari ini juga ia akan kuambil dari sisimu”, berkata Tumenggung Poleng Danupaya.
“Siapa bilang istriku jatuh hati kepadamu?”, jawab Pangeran Tekik bertanya.

“Buktinya jika bertemu denganku Pandhan Arum selalu mleroki aku, Hahahahaaaa?” Tumenggung Poleng Danupaya menjawab dengan ketawa ngakak seakan mengejek.
“Mleroki bukan berarti jatuh hati? Bisa jadi mleroki karena jijik melihat wajahmu yang aduhai jeleknya itu?”.
“Huh, ngece kamu ya?” bentak Tumenggung Poleng, “Nih, terimalah tendanganku!”, Poleng Danupaya lalu meloncat sambil mengarahkan tendangan kaki kanannya ke dada lawannya.
Pangeran Tekik memiringkan tubuhnya ke samping kiri sambil memukul kaki lawannya tadi dengan kekuatan penuh, ‘dhieg’.
“Wou, kurang ajar kamu!”, maki Tumenggung Poleng Danupaya yang sedikit terpelanting dan kehilangan keseimbangan, ‘brug’ akhirnya dia terjatuh di tanah. Dengan sigapnya lalu dia melenting tinggi dan mendarat dengan kedua kakinya berdiri di tanah siap menghadapi lawannya. (Akhiyadi)

Read previous post:
Ikan Lele Perkuat Otot-otot Perut

IKHTIAR meraih atau mewujudkan sehat dapat dilakukan dengan berbagai cara. Satu di antaranya dengan memanfaatkan bahan-bahan alami berkhasiat. Ketika dirutin

Close