NYAI AGENG PANCURAN (10) – Berdoa Memohon Agar Pertempuran Segera Berakhir

Tumenggung Jayakaton sendiri bersama senopati pengapitnya segera turun dari kapal berlari menyusul prajurit Demak yang sudah mendarat. Mereka menyerang prajurit kadipaten Blambangan dengan dahsyatnya.

SENJATA dan pedang di tangan mereka terayun-ayun gemerlapan memantulkan cahaya matahari yang menyinarinya. Tumenggung Jayakaton sengaja mendekati seseorang yang bersenjatakan tombak pendek. Bagaikan seekor ular naga raksasa pasukan yang
dipimpin Tumenggung Jayakaton ngobrak-abrik pasukan Kadipaten Blambangan sehingga banyak yang menjadi korban.
“He, siapa kau tandangmu seperti banteng ketaton?”, tanya Tumenggung Jayakaton.

Orang yang ditanya menatap dengan mata mendelik, “Aku Wongsoireng. Kau siapa?”
“Belum tahu? Akulah Tumenggung Jayakaton, Senopati Demak”.
Wongsoireng memanggil kedua muridnya, “Aku akan meladeni Tumenggung Jayakaton.
Kalian berdua hadapi kedua senopati pengapitnya itu!”, perintahnya.
Peperanganpun terjadilah dengan ramainya, Tumenggung Jayakaton yang didera oleh kamarahan hatinya atas musibah yang menimpa Kanjeng Sultan bertempur dengan hebatnya.

Pedangnya yang besar dan panjang itu terayun mengarah ke tempat-tempat berbahaya di tubuh lawannya dengan gerakan yang berkecepatan tinggi. Tetapi ternyata lawannya juga bukan orang sembarangan, begitu lincah Wongsoireng menghindarkan diri dari sergapan-sergapan senjata lawannya. Bahkan dia juga balas menyerang, tombak pendeknya hampir saja menggores lambung Tumenggung Jayakaton. Sehingga Senopati perang Demak itu mengumpat sambil memukul tangkai tombak pendek itu agar ujungnya tak merobek kulit dagingnya.

Sementara kedua senopati pengapitnya yang bertempur berpasangan nampak begitu kompaknya, sungguh mereka orang-orang yang terlatih. Kerja sama mereka dalam menyerang, menghindar dan menangkis senjata lawan sangat piawai. Sulit ditebak kapan kedua pasangan akan menentukan nasibnya masing-masing karena pertempuran begitu sengitnya.

Di arena yang lain korban di kedua belah pihak sudah berjatuhan, nyawa melayang, darah mengucur deras, luka menganga, dan rintih kesakitanpun terdengar dimana-mana. Sahabat mulai kehilangan teman, guru kehilangan murid, suami kehilangan istri, orang-orang tua kehilangan remajanya yang ikut bertempur di perang brubuh itu.

Diam-diam Kanjeng Sunan Kalijaga, Ki Ageng serta Nyai Ageng Pancuran bersamadi di suatu tempat terpencil sambil berdoa mohon kekuatan kepada Allah agar pertempuran ini bisa segera berhenti. Tidak seberapa lama kemudian terdengar suara badai gemuruh dari lautan memporakporandakan segalanya. Pohon-pohon bertumbangan, angin lesus menghamburkan tanah berpasir ke udara begitu dahsyatnya. Sehingga suasana hari itu menjadi gelap gulita, mendung hitam datang bergumpal-gumpal dari langit selatan menebarkan hujan deras disertai badai. (Akhiyadi)

Read previous post:
ilustrasi
Tukang Batu Tewas Ditabrak Truk

SALATIGA (MERAPI) - Yanto (50) warga Gamol, Kecamatan Sidomukti Salatiga tewas setelah tertabrak truk di Jalan Lingkar Selatan (JLS) Salatiga,

Close