NYAI AGENG PANCURAN (4) – Dua Penyamun Tewas, Tiga Lainnya Melarikan Diri

Benar dugaan nenek tua itu, sebentar kemudian terdengar kemrosak sebuah dahan pohon yang cukup besar jatuh melintang menghalangi lorong. Ini jelas ulah kelompok penyamun, pikirnya.

TEPAT perkiraan Nyai Ageng Pancuran. Lima orang melorot turun dari atas pohon dan segera mengancam wanita itu. Sebelum kelima orang penjahat itu benar-benar siap Nyai Ageng Pancuran buru-buru melontarkan senjata rahasianya berupa endhog wojo ke arah lawan-lawannya.
“Aouuuhh…” dua orang penyamun itu jatuh hampir bersamaan tak berdaya, satu terkena lemparan endhog wojo di pipinya sehingga tulang wajahnya remuk dan satunya beberapa tulang dadanya pecah tersambar endhog wojo yaitu sebutir besi baja bundar sebesar bola bekel.

“Hayo siapa kalian? Apa maksud kalian menghadangku di hutan lodaya ini?” tanya Nyai Ageng Pancuran menggertak dengan sepasang matanya mendelik.
“Kami begal dari Gunung Kendeng. Nah, siapa kau mengakulah sebelum kau kubunuh biar aku tahu namamu jika nanti ada orang yang mencari bangkaimu?”
“Baiklah. Namaku Nyai Ageng Pancuran istri dari Ki Ageng Pancuran penghulu Masjid Agung Demak? Paham?”.
“Hah? Ki Ageng Pancuran?”, ketiga begal itu tanpa sengaja mengulangi sebutan nama yang sudah mereka kenal sebelumnya, “Ayo kita bersama-sama sekali menggebrak dengan serangan mematikan! Jika tidak berhasil lalu cepat-cepat lari masuk hutan!”, kata pemimpin
begal berbisik kepada kedua temannya.

Mereka memang tidak bisa banyak berharap harta benda dari wanita itu. Salah-salah malah kenaasan yang mereka peroleh karena serangan wanita tua cukup membahayakan.
“Ciiiiaaaattttt…” teriak ketiga penyamun tadi bersama-sama sambil meloncat menebaskan pedangnya ke tubuh wanita perkasa itu.
Nyai Ageng Pancuran tidak kehilangan kewaspadaan, ia melenting dengan loncatan tinggi dan sebuah endhog wojo kembali terlontar nyaris mengenai paha lawannya. Begitu Nyai Ageng Pancuran mendarat lagi dengan menjejakkan kedua kakinya ke tanah siap menyerang
lawannya.

Namun ketiga penyamun tadi sudah menghilang lenyap masuk ke hutan.
“Huh! Belum seberapa kok jadi penyamun?”, gerutu Nyai Ageng pancuran. Ia cepat-cepat berlari menyusul cucunya yang sudah menunggu di kejauhan ujung lorong hutan Lodaya itu. (Akhiyadi)

Read previous post:
PASI DIY GELAR RAPAT VIRTUAL – Meski Pandemi, Latihan Tak Boleh Berhenti

YOGYA (HARIAN MERAPI) - Meski di tengah pandemi covid-19 atau virus corona, kegiatan olahraga diharapkan berjalan tersebut. Hal tersebut juga

Close