NYAI AGENG PANCURAN (2) – Perjalanan Berbahaya tapi Terasa Mengasyikkan

Nyai Ageng Pancuran akhirnya berangkat ke Tuban bersama cucunya yang baru berumur 14 tahun namun sudah sangat trampil menunggang kuda, namanya Kulup Jangger Jalu. Wanita tua itu mengenakan pakaian sebagaimana seorang prajurit perempuan.

KETIKA matahari pagi sudah memancarkan sinarnya seekor kuda yang warna bulunya kembang duren kuning kemerah-merahan yang gagah berpacu begitu cepat ke arah timur nampak jelas penunggangnya seorang bocah bersama neneknya.
“Nek, apakah nenek sudah tahu rumah Kanjeng Sunan Kalijaga dimana eyang kakung sekarang bermukim?”, tanya bocah pengendali kuda itu kepada neneknya yang duduk di belakangnya.
“Ya tahu. Tapi sudah hampir sepuluh tahun yang lalu nenek pergi ke sana, waktu kamu masih kecil. Mudah-mudahan nenek tidak lupa”, jawab orang tua itu.

Sesungguhnya yang ada di dalam sanubarinya adalah sebongkah kegelisahan yang sangat meresahkan hati Nyai Ageng Pancuran. Beberapa bulan yang lalu suaminya memaksakan diri meninggalkan kuwajibannya sebagai pengulu Masjid Demak pergi ke Tuban sowan Kanjeng
Sunan Kalijaga. Ini karena beliau nggrahita, rencana Kanjeng Sultan Trenggana memperluas kekuasaannya ke wilayah Jawa timur terutama Blambangan bukanlah merupakan rencana yang baik bagi penguwasa kerajaan Demak itu. Bahkan Ki Ageng sangat mengkhawatirkannya.

Kekhawatiran inilah yang sekarang sedang dibicarakannya dengan Sunan Kalijaga di kediaman salah satu dari Wali sanga itu. Sebab Ki Ageng Pancuran sendiri merasa bukan kapasitasnya untuk menasihati Kanjeng Sultan Trenggana agar membatalkan rencananya yang membahayakan dirinya dan sangat berpengaruh dalam kelangsungan kehidupan di Kerajaan Demak.
“Nek, apakah Eyang Kakung itu saudaranya Kanjeng Sunan Kalijaga?” tanya Kulup.
“Ya. Kanjeng Sunan itu saudaranya semua orang yang baik hati? Karena beliau adalah seorang alim ulama yang juga sangat baik hati kepada siapapun”

Kulup Jangger Jalu mengangguk-anggukkan kepalanya. Baginya perjalanan ini sangat mengasyikkan, pergi jauh ke Tuban tak ubahnya seperti tamasya ke tempat yang menyenangkan.
Anak itu tidak mengira jika sebenarnya perjalanan itu penuh bahaya yang setiap saat mengintainya sepanjang perjalanan.
Nyai Ageng Pancuran teringat, ia pernah mendengar dari suaminya. Bahwa, beliau sudah mencium gelagat Kanjeng Sultan Trenggana yang berencana akan meluaskan jajahannya ke daerah timur yang sebenarnya dihuni oleh banyak orang-orang berilmu tinggi. Sebagian besar
dari mereka adalah orang-orang pelarian dari Majapahit di saat kerajaan itu diguncang oleh Perang Paregreg. Setelah itupun beberapa rombongan prajurit Brawijaya secara bergiliran juga berkumpul kesana. (Akhiyadi)

Read previous post:
Sembelit Bisa Dilawan dengan Kemiri

USAHA melawan gangguan kesehatan dapat menggunakan bahan-bahan alami berkhasiat. Dengan langkah seperti ini diharapkan gangguan kesehatan dapat teratasi atau kesehatan

Close