PANGERAN MANGkUBUMI SUKA LAKU TIRAKAT (2) – Jadi Pekatik di Tempat Blantik Kuda

BELUM lama berada di dalam keraton Kartasura, Raden Mas Sujana sudah menghilang lagi membuat Sinuhun Paku Buwono 2 hanya bisa geleng-geleng kepala merasakan tingkah laku rayi dalem terebut. Raja tidak marah, namun selalu membuat pikiran yang tidak-tidak dan hafal yang menjadi lageyan, atau kesenengan rayi dalem yang termasuk laku prihatin untuk menggembleng diri. Rasa sayangnya semakin besar, asal rayi dalem maih dalam pengawasan saja.

Babad Tanah Jawa juga menceriterakan, kali ini Raden Mas Sujana namur kawula di sebuah desa di Pedan. Dengan nama Bagus Sarpin beliau ngenger di tempat blantik kuda ki Gendari, setiap hari tugasnya merawat dan memberi makan kuda dagangannya sebelum dijual kembali.

Bagus Sarpin yang memang suka akan kuda, dengan senang hati melaksanakan tugasnya. Tiap pagi memandikan, kemudian nyureni dan merumput untuk pakan kuda-kudanya. Bagi orang lain mungkin pekerjaan itu tidak enteng, namun karena semua dilakukan dengan senang hati, Bagus Sarpin mampu melaksanaan dengan baik. Anehnya, bagi Ki Gendari, semenjak dingengeri Bagus Sarpin dagangannya semakin banyak. Semuanya cepat laku, karena pearawatan Bagus Sarpin yang baik. Kuda-kuda Ki Gendari pun banyak diminati pedagang dari luar daerah, atau pihak keraton sendiri kerap membelinya. Bagus Sarpin tambah rajin dalam merawat kuda miik Ki Gendari, malah kemudian diberi kawruh niteni kuda yang baik dengan ciri-ciri tertentu. Ki Gendari sendiri memang ahli tentang katuranggan seekor kuda, karena memang blantik kawakan di Pedan.

Lain dari pada itu Bagus Sarpin juga dilatih cara menunggang kuda yang benar, sehingga sebentar saja sudah terampil. Bagaimana menunggang kuda sambil membawa senjata, meski Ki Gendari bukan seorang prajurit tetapi sedikit ilmu berkelahi sambil menunggang kuda banyak menguasai.

Bagus Sarpin dengan tekun melakukan tugas-tugas rutin, memandikan, ngerok badan kuda sehingga bersih dan memberi makan yang cukup. Tidak mengherankan, kuda-kuda milik Ki Gendari menjadi kuda pilihan, banyak peminatnya dan membuat hidupnya lebih sejahtera lebih dari cukup. Bagus Sarpin sendiri, meski sering membersihkan gedhogan atau kandang kuda bau kotoran, semuanya dilakukan dengan suka rela senenging ati karena semuanya untuk tirakat , niat tapa brata, namur kawula laku prihatin. Tidak ada kata menderita, Bagus Sarpin merasa dekat dengan rakyat kecil, karena selama ngenger di tempat blantik kuda pergaulannya dengan masyarakat kelas bawah sangat supel. Sama sekali tidak memerlihatkan dirinya adalah, rayi dalem ing Kartasura .

Lagi-lagi pengembaraan Bagus Sarpin harus terhenti, karena setelah tiga bulan atau hampir seratus hari ketahuan utusan keraton yang memang ditugasi oleh Sinuhun Paku Buwono 2 untuk ngawat-awati kemana perginya rayi dalem Raden Mas Sujana. Bagus Sarpin pun tanpa membantah, ikut pulang kembali masuk keraton. Anehnya lagi Ki Gendari pun tidak tahu kalau Bagus Sarpin adalah rayi dalem Sinuhun Paku Buwono 2 karena utusan keraton yang mengajak pulang mengaku saudara dari desa. (Ki Sabdo Dadi)

Read previous post:
SBSI Kritik Kinerja Disnaker DIY Terkait Pelaporan Buruh

NGAGLIK (MERAPI) - Ketua Serikat Buruh Sejahtera Indonesia (SBSI) Yogyakarta, Dani Eko Wiyono mengkritisi kinerja Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi

Close