PANGERAN MANGKUBUMI SUKA LAKU TIRAKAT (1) – Namur Kawula Ikut Jualan Gempol Pleret

SYAHDAN ketika itu Kartasura dibawah kekuasaan Sinuhun Kangdjeng Susuhunan Paku Buwono ke 2 merupakan sebuah kerajaan yang aman tenteram, terkenal sebagai raja yangkaya akan harta dan prajurit yang banyak dengan senapati tangguh membuat kehidupan masyarakat ayem tentrem kerta raharja. Negara yang gemah ripah loh jinawi, agung kuncarane membuat raja disenangi para kawula.
Namun suasana menjadi beda ketika datang bangsa Cina yang membuat onar, memporakporandakan keraton Kartasura menjadi rusak berat. Prajurit dan senapati yang tangguh tidak mampu melawan serangan tentara Cina atau lebih dikenal geger Pacinan, membuat Sinuhun Paku Buwono 2 kendhang sampai Ponorogo. Meski akhirnya tidak lama raja kembali lagi ke Kartasura, dan kondisi kerajaan rusak berat.

Dengan beberapa senapati, keluarga dan prajurit yang tetap setia, mulailah Sinuhun Paku Buwono 2 memerintahkan mencari tempat untuk membangun keraton baru. Nah, diantara sedherek dalem yang paling akrab dan disayang adalah Pangeran Harya Mangkubumi yang nama kecilnya adalah Raden Mas Sujana.
Ada kisah menarik perjalanan hidup Raden Mas Sujana, beliau meski rayi dalem Sinuhun Paku Buwono 2 namun sejak kecil suka laku tirakat, namur kawula, tapa brata agar dekat dengan rakyat kecil.

Dalam Babad Tanah Jawa diceriterakan, kerap kali Raden Mas Sujana menghilang dari keraton hanya ingin namur kawula hidup di tengah rakyat kecil. Karena dengan demikian beliau merasa dekat dengan rakyat kecil, tahu apa yang menjadi permasalahan dan suka duka dalam kehidupan.
Raden Mas Sujana yang suka bergaul dengan masyarakat, cepat menyelaraskan diri gampang srawung sengaja ngudi kanuragan, ngangsu kawruh dengan tapa brata.

Suatu ketika dengan mengaku bernama Bagus Mahidin, beliau ngenger pada mbok randha Sanun yang pekerjaanya jualan jenang dodol gempol pleret. Jenang gempol yang dijual mbok randha terbuat dari tepung beras, maka setiap hari Bagus Mahidin harus membuat tepung beras untuk bahan jenang dodol gempol pleret. Malam hari membantu mbok randha membuat jenang, pagi harinya membawakan dagangan pergi ke pasar. Jenang gempol di tempatkan dalam kuali kemudian dimasukkan dalam senik dan Bagus Mahidin memanggulnya.

Semuanya dilakukan dengan senang hati, tanpa banyak keluhan, pagi berangkat ke pasar siang pulang dan malam harinya tandang gawe membuat tepung beras. Itulah laku tapa bratane Bagus Mahidin, semuanya dilakukan dengan ikhlas, tanpa merasa dirinya adalah rayi dalem ing Kartasura. Mbok randha merasa senang dibantu Bagus Mahidin, karena dagangan jenang dodol gempolnya laris manis sehingga banyak keuntungan dan hidupya sejahtera. Yang menarik, mbok randha tidak tahu sama sekali kalau anak perjaka yang bagus luruh itu adalah priyayi keraton Kartasura , tahunya adalah anak yang kabur kanginan butuh pekerjaan.
Setelah seratus hari Bagus Mahidin ngenger di tempat mbok randha bakul jenang dodol gempol pleret, ada utusan dari keraton yang menemukan tempat Bagus Mahidin. Atas perintah Sinuhun Paku Buwono 2, Bagus Mahidin yang tidak lain adalah Raden Mas Sujana diajak pulang masuk keraton kembali. (Ki Sabdo Dadi)

Read previous post:
Ngebut Sambil Mabuk Ciu, Tewas Nabrak Tiang

Close