MASJID SUNAN MURIA: SEDERHANA, CINTA ALAM DAN PEDULI SESAMA (4-HABIS) – Hidup Selaras Menyatu dengan Alam

Masjid Sunan Muria persis berada di depan makamnya, di puncak Gunung Muria, sebelah utara kota Kudus. Guna mencapai tempat tersebut, perlu menaiki sekitar 700 tangga dari pintu gerbang. Makam Sunan Muria berbeda dari makam wali lainnya, karena letaknya menyendiri dan berada jauh dari para punggawanya, sama seperti sifatnya yang suka menyendiri.

MASJID Sunan Muria kini dikelilingi lorong-lorong yang menavigasi peziarah untuk sampai ke makam Sunan Muria, yang sepertinya tak putus-putus. Selepas dari makam, peziarah bisa mengambil air yang diambil dari gentong yang dipercaya peninggalan Sunan Muria. Airnya dipercaya membawa berkah.

Dahulu, menurut legenda Sunan menggunakan gentong tersebut untuk menampung air yang bisa digunakan warga untuk minum atau bersuci. Siapa pun boleh menggunakannya. Ini menjelaskan prinsipnya, bahwa air itu senantiasa jadi barang milik publik.
Air memiliki posisi yang penting dalam ajaran Sunan Muria, paling tidak yang hidup dalam legenda dan kepercayaan pengikut-pengikutnya. Salah satu ajaran Sunan yang terus lestari hingga kini, adalah tapa ngeli, yang secara harfiah berarti menghanyutkan diri bersama arus air di sungai. Ajaran ini boleh saja ditafsir sebagai pelajaran bagi manusia untuk hidup selaras dan menyatu dengan alam. Juga untuk menghormati alam.

Sunan Muria jauh-jauh meninggalkan pusat kekuasaan ke bukit berhutan, tentu dengan niatan sungguh-sungguh membangun sebuah komunitas Islami yang mandiri dan menyatu dengan alamnya. Ada sebuah kisah di mana Sunan Muria memerintahkan dua sahabatnya, Kyai Tanjung Sari dan Kyai Sari Jati untuk menanam padi gaga pada tanah miring di sebelah masjid. Ini bisa jadi isyarat bahwa Sunan Muria menghendaki kemandirian pangan buat padepokannya, dengan menanam padi gaga yang cocok dengan situasi alam sekitar yang memang berbukit-bukit dan curam.

Dilansir kebudayaan.kemdikbud.go.id, padi gaga di sebelah masjid itu mungkin sempat tumbuh dan jadi makanan pokok buat warga Muria si zaman dulu. Tapi kini nyaris tak ada jejaknya. Digantikan dengan deretan kios-kios bernuansa modern. Tak kalah dengan deretan kios dan ruko di kota-kota besar. Bukannya beras, tapi warga menjaja aneka suvenir ada bertema Sunan Muria atau keislaman. Meski ada pula yang tak ada hubungannya sama sekali. Seperti misalkan mainan anak bertema Tayo. Memang tidak ada salahnya, karena yang penting bisa mendatangkan rezeki yang halal. (*)

Read previous post:
TANGGAP DARURAT COVID-19 SEGERA BERAKHIR-Yogya Jalin Koordinasi dengan Pemda DIY

YOGYA (HARIAN MERAPI) - Status tanggap darurat bencana Covid-19 di Kota Yogyakarta yang berlaku 20 Maret hingga 29 Mei 2020

Close