MASJID SUNAN MURIA: SEDERHANA, CINTA ALAM DAN PEDULI SESAMA (2) – “Pagerono Omahmu Kanthi Mangkok”

Sunan Muria pernah membakar habis masjidnya, hanya karena dipuji Sunan Kudus betapa bagusnya masjid tersebut. Rupanya hal itu justru membuat Sunan Muria merasa tidak enak. Lantas di atas kayu yang gosong, ia bangun kembali masjid yang lebih sederhana.

MASJID yang dibangun kembali dengan bentuk sederhana di atas bukit itu, seolah menjadi pengingat prinsip Sunan Muria — tokoh yang termasuk dalam jajaran elite Walisongo dan Kesultanan Demak — yang senantiasa ingin hidup sederhana dan dekat dengan alam serta warga yang ada di pinggir. Ajaran sosialnya adalah: “pagerono omahmu kanthi mangkok” (pagarilah rumahmu dengan mangkuk).
Petuah ini dapat bermakna saling bergotong royong, tolong-menolong dan membantu mereka yang membutuhkan. Kita diajarkan agar berbuat baik kepada tetangga. Mangkok yang dimaksud adalah sebuah wadah makanan. Sehingga maksudnya makanan tersebut untuk dibagikan kepada tetangga. Hantaran makanan kepada tetangga merupakan interaksi sosial yang sangat indah.

Nyatanya ajaran tersebut masih terasa sampai sekarang. Yang mana area masjid kini telah jadi pusat pemberdayaan ekonomi desa.
“Mulai Kamis sudah ramai. Sabtu-Minggu lebih ramai lagi. Pengunjungnya antara 6000-12.000 orang,” kata Muhamad Affandi, staf pengurus Masjid Sunan Muria, dilansir kebudayaan.kemdikbud.go.id.

Pengurus masjid mengorganisir pedagang-pedagang di puluhan kios yang berada di kiri kanan lorong menuju masjid. Deretan kios itu diberi lampu neon putih bersih. Para pedagang tiap bulan diberi ketrampilan yang dibutuhkan untuk menjual dagangannya agar laku. Dampaknya bisa dirasakan, karena tak ada penjual yang memaksa atau menawarkan secara agresif kepada pengunjung.
“Di sini, kalau mau berkreasi apapun jadi uang. Mau gerak jadi uang. Tiap bulan ada pertemuan selain pengajian. Mereka dibekali pelatihan jangan sampai merugikan. Pelatihan kesopanan, menjual yang bagus, dll,” kata Muhammad lagi.

Masjid secara rutin memberikan santunan beras sebanyak 10 kg untuk hampir 50 orang. Semua lembaga pendidikan di sekitar masjid juga ditanggung biaya listriknya. Para tukang ojek telah berserikat. Dan hasilnya hampir tak ada satu pun pengemis yang kelihatan apalagi sampai merengek meminta sedekah. Semua seperti saling menjaga, dengan mangkoknya. (*)

Read previous post:
Cahaya Misterius di Pantai Parangkusumo

KISAH nyata ini terjadi tahun 2010 silam, saat kami baru sampai di Pantai Parangkusumo jam 5 sore. Kami putuskan untuk

Close