PASANG SURUT KERAJAAN TARUMANEGARA (6) – Menggali Saluran untuk Pertanian dan Mencegah Banjir

KEHIDUPAN perekonomian masyarakat Tarumanegara berupa pertanian dan peternakan. Hal ini dapat diketahui dari isi Prasasti Tugu, yakni tentang pembangunan atau penggalian saluran Gomati yang panjangnya 6112 tombak (12 km) selesai dikerjakan dalam waktu 21 hari. Masyarakat Kerajaan Tarumanagara juga berprofesi sebagai pedagang mengingat letaknya yang strategis berada di dekat selat sunda.

Pembangunan dan penggalian itu mempunyai arti ekonomis bagi rakyat, karena dapat digunakan sebagai sarana pengairan dan pencegahan banjir. Selain penggalian saluran Gomati dalam prasasti Tugu juga disebutkan penggalian saluran Candrabhaga. Dengan demikian rakyat akan hidup makmur, aman, dan sejahtera.

Dari segi kebudayaan, Kerajaan Tarumanagara bisa dikatakan sudah tinggi. Terbukti dengan penggalian sungai untuk mencegah banjir dan sebagai saluran irigasi untuk kepentingan pertanian. Terlihat pula dari teknik dan cara penulisan huruf-huruf pada prasasti yang ditemukan, menjadi bukti kebudayaan masyarakat pada saat itu tergolong sudah maju.
Proses dan hasil pembangunan beberapa sungai diatas menghasilkan beberapa dampak, diantaranya dapat memperteguh daerah-daerah yang dibangun sebagai daerah kekuasaan Tarumanagara. Kedua, karena sungai pada saat itu sebagai sarana perekonomian yang penting, maka pembangunan tersebut membangkitkan perekonomian pertanian dan perdagangan.

Kemunduran Kerajaan Tarumanegara
Pada masa Raja Suryawarman tidak hanya melanjutkan kebijakan politik ayahnya yang memberikan kepercayaan lebih banyak kepada raja daerah untuk mengurus pemerintahan sendiri, melainkan juga mengalihkan perhatiannya ke daerah bagian timur. Dalam tahun 526 M, misalnya, Manikmaya, menantu Suryawarman, mendirikan kerajaan baru di Kendan, daerah Nagreg antara Bandung dan Limbangan, Garut. Putera tokoh Manikmaya ini tinggal bersama kakeknya di ibukota Tarumangara dan kemudian menjadi Panglima Angkatan Perang Tarumanagara. Perkembangan daerah timur menjadi lebih berkembang ketika cicit Manikmaya mendirikan Kerajaan Galuh dalam tahun 612 M.

Sayangnya, pada masa kepemimpinan Sudawarman, Tarumanagara sudah mulai mengalami kemunduran. Terdapat beberapa faktor penyebab kemunduran kerjaan Tarumanagara. Pertama, pemberian otonomi kepada raja-raja bawahan yang diberikan oleh raja-raja sebelumnya tidak disertai hubungan dan pengawasan yang baik. Akibanya para raja bawahan merasa tidak terlindungi dan tidak diawasi.
Sudawarman secara emosional juga tidak menguasai persoalan di Tarumanagara, sejak kecil ia tinggal di Kanci, kawasan Palawa. Sehingga masalah Tarumanagara menjadi asing baginya. Memang ia dapat menyelesaikan tugas pemerintahannya, hal ini disebabkan adanya kesetiaan dari pasukan Bhayangkara yang berasal dari Indraprahasta, telah teruji kesetiannya terhadap raja-raja Tarumanagara, mereka hanya berpikir tentang bagaimana cara menyelematkan raja. Sehingga setiap pemberontakan dapat diselesaikan dengan baik. (*)

Read previous post:
PSBB Longgar Picu Lonjakan Kasus Covid-19

BANTUL (MERAPI) - Rektor Universitas Alma Ata Yogyakarta Profesor Hamam Hadi mengemukakan longgarnya penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar di Indonesia

Close