PASANG SURUT KERAJAAN TARUMANEGARA (4) – Meninggalkan Tujuh Prasasti Batu

BUKTI adanya Kerajaan Tarumanegara, diperkuat dengan ditemukannya tujuh buah prasasti batu. Ada lima di Bogor, satu di Jakarta dan satu lagi di Lebak Banten. Dari prasasti-prasasti ini, setidaknya bisa diketahui bahwa kerajaan dipimpin Rajadirajaguru Jayasingawarman pada tahun 358 M dan dia memerintah sampai tahun 382 M. Makam Rajadirajaguru Jayasingawarman ada di sekitar sungai Gomati (wilayah Bekasi). Kerajaan Tarumanegara ialah kelanjutan dari Kerajaan Salakanagara.

Adapun prasati tersebut adalah Prasasti Kebon Kopi, yang dibuat sekitar 400 M. Prasasti ini ditemukan di perkebunan kopi milik Jonathan Rig, Ciampea, Bogor. Prasasti Tugu, ditemukan di Kampung Batutumbu, Desa Tugu, Kecamatan Tarumajaya, Kabupaten Bekasi. Prasasti ini sekarang disimpan di museum Jakarta. Prasasti tersebut isinya menerangkan adanya penggalian Sungai Candrabaga oleh Rajadirajaguru dan penggalian Sungai Gomati sepanjang 6112 tombak atau 12 km oleh Purnawarman pada tahun ke-22 masa pemerintahannya. Penggalian sungai tersebut merupakan gagasan untuk menghindari bencana alam berupa banjir yang sering terjadi pada masa pemerintahan Purnawarman, dan kekeringan yang terjadi pada musim kemarau.

Prasasti Cidanghiyang atau Prasasti Munjul, ditemukan di aliran Sungai Cidanghiyang yang mengalir di Desa Lebak, Kecamatan Munjul, Kabupaten Pandeglang, Banten. Prasasti ini berisi pujian kepada Raja Purnawarman.
Lainnya adalah Prasasti Ciaruteun, Ciampea, Bogor, prasasti Muara Cianten, Ciampea, Bogor, prasasti Jambu, Nanggung, Bogor dan prasasti Pasir Awi, Citeureup, Bogor.

Lahan tempat prasasti itu ditemukan berbentuk bukit rendah berpermukaan datar dan diapit tiga batang sungai: Cisadane, Cianten dan Ciaruteun. Sampai abad ke-19, tempat itu masih dilaporkan dengan nama Pasir Muara. Dulu termasuk bagian tanah swasta Ciampea. Sekarang termasuk wilayah Kecamatan Cibungbulang.
Kampung Muara tempat prasasti Ciaruteun dan Telapak Gajah ditemukan, dulu merupakan sebuah “kota pelabuhan sungai” yang bandarnya terletak di tepi pertemuan Cisadane dengan Cianten. Sampai abad ke-19 jalur sungai itu masih digunakan untuk angkutan hasil perkebunan kopi. Sekarang masih digunakan oleh pedagang bambu untuk mengangkut barang dagangannya ke daerah hilir. (*)

Read previous post:
Kapasitas Tempat Tidur Ruang Isolasi Perlu Ditambah

YOGYA (HARIAN MERAPI) - Gugus tugas penanganan Covid-19 bidang kesehatan Pemda DIY perlu menambah kapasitas rumah sakit perawatan pasien Covid-19,

Close