PASANG SURUT KERAJAAN TARUMANEGARA (2) – Bangsa Asing Turut Mengabarkan

KEBERADAAN Kerajaan Tarumanegara selain berdasarkan prasasti batu, juga banyak berita dari bangsa asing yang pernah berkunjung ke sana. Salah satu berita itu datang dari Claudius Ptolomeus yang menulis buku Geographyke Hyphegesis. Menurut ahli ilmu bumi Yunani Kuno, bahwa di Timur Jauh ada sebuah kota bernama Argyre yang terletak di ujung Pulau Iabadium (Jawadwipa = Pulau Jelai = Pulau Jawa). Kata Argyre berarti perak, diduga yang dimaksud adalah Merak yang terletak di sebelah barat Pulau Jawa.
Disebutkan, bahwa dua patung Wisnu ditemukan di situs Cibuaya, Karawang, Jawa Barat. Diperkirakan berasal dari kerajaan Tarumanagara Abad 7-8 M. Wisnu adalah dewa pemelihara Hindu, mahkota berbentuk tabung memiliki kemiripan dengan seni Khmer Kamboja.

Kabar lain datang dari Gunawarman, seorang pendeta dari Kashmir. Ia mengatakan bahwa agama yang dianut rakyat Taruma adalah Hindu. Berita dari Cina yang dibawa Fa Hsien dalam perjalanannya kembali ke Cina dari India menyebutkan, bahwa rakyat di Ye-Po-Ti (Jawa = Taruma) sebagian besar beragama Hindu, sebagian kecil beragama Buddha dan Kitters (penyembah berhala).
Ye Po Ti selama ini sering dianggap sebutan Fa Hsien untuk Jawadwipa, tapi ada pendapat lain yang mengajukan bahwa Ye-Po-Ti adalah Way Seputih di Lampung, di daerah aliran way seputih (sungai seputih) ini ditemukan bukti-bukti peninggalan kerajaan kuno berupa punden berundak dan lain-lain yang sekarang terletak di taman purbakala Pugung Raharjo, meskipun saat ini Pugung Raharjo terletak puluhan kilometer dari pantai tapi tidak jauh dari situs tersebut ditemukan batu-batu karang yang menunjukan daerah tersebut dulu adalah daerah pantai persis penuturan Fa Hsien.

Adapun berita dari Soui (Cina) menyebutkan bahwa pada tahun 528 dan 535 datang utusan dari Tolomo (Taruma) ke Cina. Dari berita Fa-hsien pada awal abad ke-V, di Tarumanagara terdapat tiga macam agama, yaitu agama Buddha, Hindu, dan agama kotor (Yang disebut “agama kotor” adalah agama Siwa Pasupata. Pendapat lain menghubungkan agama kotor itu dengan agama orang Parsi yang mengenal upacara penguburan dengan menempatkan jenazah demikian saja di dalam hutan. Agama Hindu paling banyak diketahui karena diperkuat pula oleh bukti-bukti prasasti dan arca. (Dari berbagai sumber)

Read previous post:
Maling Anyaran Diinjak Patung Kuda Nil

BELUM lama Sugal dan Bogang mendengar berita, jika Babah Tiong memasang patung kuda nil di kedua sisi pintu gapura rumahnya.

Close