KESULTANAN CIREBON, KERAJAAN ISLAM PERTAMA DI JAWA (11) – Menjadi Korban dalam Huru-hara di Demak

Pada tahun 1546 M, Sultan Trenggana tidak sengaja terbunuh dalam usaha penyerangan ke Panarukan. Padahal kala itu Panarukan sudah dikepung selama tiga bulan oleh gabungan prajurit kesultanan Demak dan kesultanan Cirebon.

GUNA menyerang Panarukan, kesultanan Cirebon mengirim sekitar 7.000 prajurit yang khusus didatangkan dari Banten dan Jayakarta serta Cirebon sendiri. Di antara prajurit yang dikirim dari kesultanan Cirebon ada Fernão Medes Pinto, penjelajah Portugis yang mencatat ekspedisi penyerangan ke Panarukan. Pinto mengajak empat puluh orang temannya. Sebelumnya ia tiba di Banten pada 1 Oktober 1545 untuk membeli lada dalam pelayarana dari Goa menuju Tiongkok. Pinto terpaksa menunggu berbulan-bulan karena persediaan lada di pelabuhan Banten belum mencukupi.

Usai pengepungan selama tiga bulan, Sultan Trenggana mengadakan rapat bersama para adipati untuk merencanakan penyerangan lanjutan ke Panarukan. Saat itu putra adipati Surabaya yang baru berumur sepuluh tahun, menjadi pelayannya membawakan tempat sirih. Tertarik dengan jalannya rapat, membuat putra adipati Surabaya itu tak mendengarkan perintah sultan Trenggana. Akibatnya sultan marah dan memukulnya. Putra adipati Surabaya itu merasa sangat tersinggung dan tak disangka menusukkan pisau kecil yang terselip di ikat pinggangnya tepat ke arah jantung Sultan. Tak ayal Sultan tewas seketika dan dibawa pulang ke Demak dari Panarukan.

Berikutnya terjadilah huru-hara perebutan kekuasaan di kesultanan Demak. Pangeran Mohammad Arifin alias Pangeran Pasarean yang menjabat sebagai Depati Cirebon sekaligus putra mahkota kesultanan Cirebon sedang berada di Demak mewakili sultan Cirebon, turut menjadi korban meninggal dalam peristiwa tersebut. Sedang istrinya, Ratu Nyawa yang turut mendampinginya, berhasil selamat.
Setahun setelah huru-hara di Demak yang menyebabkan meninggalnya Depati Cirebon Pangeran Muhammad Arifin, Ratu Wanawati melahirkan Pangeran Mas Zainul Arifin. Istri Pangeran Sawarga ini adalah puteri Fadillah Khan dengan Ratu Ayu janda Yunus Abdul Kadir al-Idrus. Dalam peristiwa huru-hara di kesultanan Demak, juga terbunuh Pangeran Hadiri suami Ratu Kalinyamat alias Ratna Kencana, putri pertama Sultan Trenggana sekaligus Adipati Jepara.

Dalam pada itu, kesultanan Cirebon menggelar musyawarah guna menyikapi peristiwa meninggalnya Pangeran Mohammad Arifin di Demak. Syarief Hidayatullah selaku penguasa kesultanan Cirebon kala saat itu sedang menetap di Banten. Hasil musyawarah tahun 1552 itu adalah, putra pertama Syarief Hidayatullah yaitu Pangeran Maulana Hasanuddin yang menjabat sebagai depati Banten atau gubernur kesultanan Cirebon untuk wilayah Banten, dinaikkan statusnya dari depati menjadi sultan atas wilayah Banten. Konon kemudian mengembangkan kesultanan Banten. Sementara untuk mengisi kekosongan posisi wakil sultan Cirebon yang mengurusi kesultanan Cirebon saat Syarief Hidayatullah tak berada di tempat, diputuskan diisi Fadillah Khan alias Fatahilah. Dengan demikian, pada tahun 1552, setelah Maulana Hasanuddin resmi menjadi penguasa kesultanan Banten, maka Syarief Hidayatullah kembali ke Cirebon. (*)

Read previous post:
Masih Beredar Makanan Kadaluarsa di Pasar Karanganyar

KARANGANYAR (MERAPI) - Tim inspeksi mendadak (Sidak) makanan dan minuman dari Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Karanganyar mendapati barang kedaluwarsa dan

Close