KESULTANAN CIREBON, KERAJAAN ISLAM PERTAMA DI JAWA (8) – Sunda Kelapa Diserang, Portugis Terlambat Membantu

Pada tahun 1522 Gubernur Alfonso d’Albuquerque yang berkedudukan di Malaka mengutus Henrique Leme untuk menghadiri undangan raja Sunda Surawisesa yang dalam naskah Portugis disebut sebagai Raja Samiam. Tujuan mereka adalah membangun benteng keamanan di Sunda Kalapa, untuk menghadapi orang-orang Cirebon yang menurut mereka bersifat ekspansif.

PADA zaman itu nama Fatahilah alias Fadilah Khan, yang dipercaya sebagian masyarakat Cirebon berasal dari Pasai, sudah dikenal di beberapa kalangan masyarakat Demak dan Cirebon. Sebelumnya ia hidup berpindah pindah dari Pasai ke Melaka, sampai akhirnya datang ke Cirebon akibat kedua tempat tersebut dikuasai Portugis. Fatahilah dikenal karenaturut membantu dalam hal syiar Islam di Cirebon. Stelah meninggalnya Sultan Demak Pangeran Sebrang Lor, ia menikah dengan mantan Istri pangeran Sebrang Lor, Ratu Ayu, yang juga anak Sunan Gunung Jati. Dan setelah Pangeran Jayakelana dari Cirebon meninggal, ia kemudian menikah lagi dengan mantan istrinya yang berasal dari kesultanan Demak, Ratu Ayu Pembayun. Fatahilah pun menjadi menantu Sunan Gunung Jati dan kesultanan Demak.

Fatahilah suatu saat mengungkapkan rencananya menyerang Portugis di Sunda Kelapa. Hal ini mendapat dukungan dari kesultanan Demak, Sultan Trenggana, yang melihat kedekatan kerajaan Sunda dengan Portugis sebagai ancaman.
Rencana menyerang Sunda Kelapa akhirnya terlaksana dengan gabungan prajurit kesultanan Cirebon, kesultanan Demak dan kesultanan Banten. Kala itu Banten masih menjadi kadipaten di bawah kesultanan Cirebon, karena baru saja berdiri pada tahun 1526. Sebelumnya Fatahilah minta saudara iparnya, Sultan Banten pertama Maulana Hasanuddin, agar tidak menyerang Sunda Kelapa sendirian.
Penyerangan Sunda Kelapa dilakukan tahun 1527. Menurut sejarawan dan budayawan Betawi Ridwan Saidi, pasukan Fatahilah hanya menghadapi Syahbandar Sunda Kelapa, Wak Item dan dua puluh anggotanya. Wak Item tewas dan tubuhnya ditenggelamkan di laut.

Selanjutnya Fatahilah membumihanguskan perkampungan yang ada, termasuk yang didiami tiga ribu orang muslim Betawi. Pemukiman itu berada di wilayah Mandi Racan, sekarang masuk wilayah Pasar Ikan, Jakarta. Fatahilah pun membangun istana dengan tembok tinggi di sisi barat Kali Besar yang merupakan terusan sungai di sebelah barat Ciliwung. Masyarakat muslim Betawi yang rumahnya di dekat istananya diusir dan rumahnya dibumihanguskan. Sunda Kelapa akhirnya dapat dikuasai sepenuhnya pada 22 Juni 1527.

Kemenangan pasukan gabungan prajurit Banten, Cirebon dan Demak di Sunda Kelapa yang berakhir dengan tewasnya Wak Item bersama dua puluh anggotanya serta sebagian penduduk Sunda Kelapa tersebut, dikarenakan terlambatnya bantuan dari Portugis. Francisco de Xa yang ditugasi membangun benteng diangkat menjadi Gubernur Goa, sebuah koloni Portugis di India. Karena itu, keberangkatan ke kerajaan Sunda dipersiapkan dari Goa dengan 6 buah kapal. Galiun alias kapal perang yang dinaiki Francisco De Xa dan berisi peralatan untuk membangun benteng terpaksa ditinggalkan, karena armada ini diterpa badai dan karam di Teluk Benggala, tepatnya di Ceylon atau Srilanka. Francisco De Xa baru tiba di Melaka tahun 1527.

Ekspedisi ke Sunda bertolak dari Malaka. Semula menuju Banten, namun lantaran sudah dikuasai Maulana Hasanuddin, maka perjalanan dilanjutkan ke Pelabuhan Kalapa. Di Muara Cisadane, Francisco De Xa memancangkan Padrão tanggal 30 Juni 1527 dan memberi nama kepada Cisadane “Rio de São Jorge”, yang berarti sungai Santo Jorge. Selanjutnya galiun Francisco De Xa memisahkan diri, hanya kapal brigantin yang dipimpin Duarte Coelho yang berangkat ke Pelabuhan Sunda Kelapa. Duarte Coelho terlambat mengetahui perubahan situasi, kapalnya menepi terlalu dekat ke pantai dan akhirnya menjadi mangsa empuk pasukan Fatahilah. Dengan kerusakan yang berat dan korban banyak, kapal Portugis akhirnya mampu meloloskan diri ke Pasai.

Dua tahun kemudian 1529 Portugis menyiapkan 8 kapal untuk melakukan serangan balasan. Namun lantaran peristiwa 1527 yang menimpa pasukan Duarte Coelho masih menyisakan ketakutan, tujuan armada lantas diubah menuju Pedu di wilayah Pantai Emas Portugal yang merupakan koloni Portugis di Afrika, yang sekarang jadi bagian negara Ghana. (*)

Read previous post:
Ubi Madu Tawangmangu Bertahan di Tengah Pandemi

HASIL bumi khas lereng Gunung Lawu, yakni ubi madu dari Tawangmangu memiliki penikmat yang kian luas. Seiring penawarannya secara daring,

Close