KESULTANAN CIREBON, KERAJAAN ISLAM PERTAMA DI JAWA (7) – Dakwah Islam Ditantang dengan Sabung Ayam

KESULTANAN CIREBON, KERAJAAN ISLAM PERTAMA DI JAWA (7) - Dakwah Islam Ditantang dengan Sabung Ayam
KESULTANAN CIREBON, KERAJAAN ISLAM PERTAMA DI JAWA (7) –
Dakwah Islam Ditantang dengan Sabung Ayam

Pada tahun 1522 Gubernur Alfonso d’Albuquerque yang berkedudukan di Malaka di tahun 1522 mengutus Henrique Leme untuk menghadiri undangan raja Sunda Surawisesa – yang dalam naskah Portugis disebut sebagai Raja Samiam – dengan maksud membangun benteng keamanan di Sunda Kalapa. Hal ini dilakukan untuk melawan orang-orang Cirebon yang mereka katakan bersifat ekspansif.

TEPAT tanggal 21 Agustus 1522, akhirnya dibuat suatu perjanjian yang isinya orang Portugis diperbolehkan membangun loji atau perkantoran dan perumahan yang dilengkapi benteng di Sunda Kelapa dan Banten. Di lain pihak, Sunda Kelapa akan mendapatkan barang-barang yang diperlukan. Raja Sunda Surawisesa juga akan memberi orang-orang Portugis sebanyak 1.000 keranjang lada sebagai tanda persahabatan, untuk memperingati peristiwa bersejarah itu dibuatlah sebuah batu peringatan atau Padrao. Batu peringatan itu lantas disebut dalam cerita masyarakat Sunda sebagai Layang Salaka Domas dalam cerita rakyat Mundinglaya Dikusumah. Di pihak kerajaan Sunda perjanjian ditandatangani Padam Tumungo alias yang terhormat Tumenggung, Samgydepaty atau Sang Depati, e outre Benegar (dan bendahara) e easy o xabandar (dan Syahbandar) Syahbandar Sunda Kelapa yang menandatangani bernama Wak Item dari kalangan muslim Betawi. Ia menandatangani dengan membubuhkan huruf Wau dengan Khot.

Di lain pihak, Maulana Hasanuddin juga membangun kompleks istana yang diberi nama keraton Surosowan, dilengkapi pula membangun alun-alun, pasar, masjid agung serta masjid di kawasan Pacitan. Kala itu yang menjadi penguasa di Wahanten Pasisir adalah Arya Surajaya putra Sang Surosowan dan paman dari Maulana Hasanuddin, setelah meninggalnya Sang Surosowan pada 1519 M. Arya Surajaya diperkirakan masih memegang pemerintahan Wahanten Pasisir hingga tahun 1526 M.

Sementara di tahun 1524 M, Sunan Gunung Jati bersama pasukan gabungan dari kesultanan Cirebon dan kesultanan Demak mendarat di pelabuhan Banten. Kala itu tidak ada pernyataan yang menyebutkan Wahanten Pasisir menghalangi kedatangan pasukan gabungan Sunan Gunung Jati, sehingga pasukan lantas difokuskan merebut Wahanten Girang.

Disebutkan dalam Carita Sajarah Banten, manakala pasukan gabungan kesultanan Cirebon dan kesultanan Demak mencapai Wahanten Girang, Ki Jongjo yang merupakan kepala prajurit penting dengan sukarela memihak kepada Maulana Hasanuddin.
Berdasarkan sumber-sumber lisan dan tradisional diceritakan, bahwa penguasa Banten Girang yang terusik dengan banyaknya aktivitas dakwah Maulana Hasanuddin yang berhasil menarik simpati masyarakat, termasuk masyarakat pedalaman Wahanten sebagai wilayah kekuasaan Wahanten Girang, maka pucuk umum Arya Suranggana minta Maulana Hasanuddin untuk menghentikan aktivitas dakwahnya. Caranya, ia menantang sabung ayam dengan syarat, jika yang menang Arya Suranggana maka Maulana Hasanuddin harus menghentikan aktivitas dakwahnya. Namun ternyata sabung ayam dimenangkan Maulana Hasanuddin, sehingga dia berhak melanjutkan aktivitas dakwahnya. Sementara Arya Suranggana dan masyarakat yang menolak masuk Islam kemudian memilih masuk hutan di wilayah Selatan.
Setelah Arya Suranggana hengkang, maka kompleks Banten Girang digunakan sebagai pesanggrahan bagi para penguasa Islam, setidaknya sampai penghujung abad ke-17.

Atas petunjuk sang ayah, Sunan Gunung Jati, kemdian Maulana Hasanuddin memindahkan pusat pemerintahan Wahanten Girang ke pesisir di kompleks Surosowan sekaligus membangun kota pesisir. Pembangunan kompleks istana Surosowan selesai pada tahun 1526.
Di tahun itu juga Arya Surajaya yang menjadi pucuk umum Wahanten Pasisir, dengan sukarela menyerahkan kekuasannya atas wilayah Wahanten Pasisir kepada Sunan Gunung Jati. Kedua wilayah Wahanten Girang dan Wahanten Pasisir pun disatukan menjadi Wahanten yang kemudian disebut sebagai Banten. Statusnya adalah sebagai kadipaten dari kesultanan Cirebon. Itu terjadi pada tanggal 1 Muharram 933 Hijriah atau 8 Oktober 1526 M. Usai menyatukan Banten Sunan Gunung Jati kembali ke kesultanan Cirebon dan pengurusan wilayah Banten diserahkan pada Maulana Hasanuddin.(*)

Read previous post:
MUI Terbitkan Fatwa Salat Idul Fitri di Rumah Saja

YOGYA (HARIAN MERAPI) - Majelis Ulama Indonesia (MUI) terbitkan fatwa Nomor 28 tahun 2020, Rabu (13/5) perihal panduan kaifiat takbir

Close