KESULTANAN CIREBON, KERAJAAN ISLAM PERTAMA DI JAWA (3) – Kehilangan Hak Putra Mahkota Lantaran Memeluk Islam


Berdasarkan sejarah lisan dan babad menyebutkan, Pengeran Walangsungsang diperintahkan oleh sang guru Syekh Datuk Kahfi alias Nur Jati, untuk membuka lahan baru di wilayah Kebon Pesisir. Tapi ternyata di Kebon Pesisir ini tidak sepenuhnya kosong karena sudah ada sepasang suami istri yang bermukim. Mereka adalah Ki Danusela bersama istrinya.

GUNA menghormati Ki Danusela, maka beliau diangkat sebagai Kuwu atau Kepala Desa Caruban yang pertama dengan gelar Ki Gedeng Alang-alang. Sedang sebagai Pangraksabumi atau wakilnya, diangkatlah Raden Walangsungsang, putra Prabu Siliwangi dan Nyi Mas Subanglarang atau Subangkranjang, yang tak lain putri Ki Gedeng Tapa. Setelah Ki Gedeng Alang-alang wafat, Walangsungsang yang bergelar Ki Cakrabumi diangkat menjadi pengganti sebagai kuwu kedua, dengan gelar Pangeran Cakrabuana.

Pada masa pemerintahan ki Danusela sebagai kuwu Kebon Pesisir, sempat dibangun tajug atau Musala pertama di wilayah tersebut atas prakarsa dari menantunya, pangeran Walangsungsang. Tajug itu diberi nama tajug Jalagrahan.

Pangeran Cakrabuana atau Raden Walangsungsang merupakan keturunan Pajajaran. Putra pertama Sri Baduga Maharaja Prabu Siliwangi dari istrinya yang pertama bernama Subanglarang yang juga putri Ki Gedeng Tapa. Raden Walangsungsang punya dua orang saudara seibu, yaitu Nyai Rara Santang dan Raden Kian Santang.

Sekalipun menjadi anak sulung dan laki-laki, namun Pangeran Cakrabuana tidak mendapat hak sebagai putra mahkota Pakuan Pajajaran. Alasannya lantaran ia memeluk agama Islam sebagaimana diturunkan Subanglarang dan ibunya. Pada saat itu di abad 15, ajaran agama mayoritas di Pajajaran adalah Sunda Wiwitan yng merupakan agama leluhur orang Sunda, agama Hindu dan Budha. Posisi Raden Walangsungsang lantas digantikan adiknya, Prabu Surawisesa, anak laki-laki Prabu Siliwangi dari istri kedua Nyai Cantring Manikmayang.

Tidak menjadi raja di Pajajaran, Pangeran Walangsungsang kemudian membuat sebuah pedukuhan di Kebon Pesisir. Ia membangun Kuta Kosod berupa susunan tembok bata merah tanpa spasi, mendirikan Dalem Agung Pakungwati serta dan membentuk pemerintahan di Cirebon. Hal ini terjadi pada tahun 1430 M.

Berdasarkan fakta-fakta inilah, kemudian yang dianggap sebagai pendiri pertama Kesultanan Cirebon adalah Raden Walangsungsang alias Pangeran Cakrabuana. Usai menunaikan ibadah haji, Raden Walangsungsang kemudian bergelar Haji Abdullah Iman. Beliau berperan sebagai raja Cirebon pertama yang memerintah dari keraton Pakungwati dan aktif menyebarkan agama Islam kepada penduduk Cirebon. (*)

Read previous post:
Berbahan Keju Tingkatkan Kekebalan Tubuh

SAHUR dan buka puasa termasuk kegiatan rutin sehari-hari yang dilakukan kaum muslimin yang menjalankan ibadah puasa Ramadan. Tak sedikit bahan

Close