KESULTANAN CIREBON, KERAJAAN ISLAM PERTAMA DI JAWA (2) – Warga Muslim Tionghoa Ikut Andil Dalam Pembangunan

Sama halnya dengan daerah lain yang tengah berkembang, Cirebon juga tak bisa dilepaskan dengan keberadaan pedagang dan orang-orang Cina. Dalam hal ini, keradaan laksamana Cheng Ho rupanya punya andil besar dalam awal-awal pembangunan Cirebon menjadi kota yang berkembang pesat.

DALAM misi diplomatiknya, Cheng Ho memang sempat berlabuh di pelabuhan Muara Jati, Cirebon pada tahun 1415. Kala itu kedatangan Cheng Ho disambut hangat oleh Ki Gedeng Tapa. Sebaliknya, Cheng Ho sendiri kemudian memberi cenderamata berwujud piring dengan tulisan ayat kursi. Piring ini masih ada dan tersimpan di keraton Kasepuhan, kesultanan Kasepuhan Cirebon.

Cheng Ho bersama para anak buahnya ternyata mampu berbaur dengan penduduk setempat. Mereka pun berbagi ilmu tentang pembuatan keramik, penangkapan ikan dan manajemen pelabuhan. Kung Wu Ping sebagai panglima angkatan bersenjata pada armada Cheng Ho, punya keinginan untuk membuat monumen, yang menandai bahwa mereka pernah berada di tempat tersebut dan turut memberi andil dalam pembangunan. Maka didirikanlah sebuah mercusuar yang dalam bahasa Cirebon disebut Prasada Tunggang Prawata. Mercusuar itu sekaligus berfungsi untuk pelabuhan Muara Jati, dengan mengambil posisi di bukit Amparan Jati.

Perkembangan selanjutnya memunculkan adanya pemukiman warga muslim Tionghoa di Crebon. Mereka membangun komunitas di sekitar prasada tunggang prawata bukit Amparan Jati, di wilayah Sembung, Sarindil dan Talang. Tak lupa pula mereka membangun masjid sebagai tempat peribadatan.
Pemukiman-pemukiman itu memiliki fungsi yang berbeda-beda. Warga di Sarindil ditugaskan untuk menyediakan kayu jati guna perbaikan kapal-kapal, pemukiman di Talang ditugaskan memelihara dan merawat pelabuhan, sementara pemukiman di Sembung mempunyai tugas untuk memelihara mercusuar. Ketiga pemukiman Tionghoa tersebut secara bersama-sama juga ditugaskan memasok bahan-bahan makanan untuk kapal-kapal. Namun masjid di wilayah Talang sekarang sudah berubah fungsinya menjadi sebuah klenteng.

Di Cirebon dikenal adanya sebuah bangunan yang disebut Gedong Witana. Keberadaan gedung ini tak bisa dilepaskan dengan kedatangan pangeran Walangsungsang dan nyimas Rara Santang untuk memperdalam agama Islam. Pangeran Walangsungsang inilah yang membangun sebuah tempat tinggal yang kemudian disebut Gedong Witana pada tahun 1428 Masehi. Sekarang gedung ini menjadi bagian dari kompleks keraton Kanoman, kesultanan Kanoman.

Setelah memperoleh pengajaran agama yang cukup, pangeran Walangsungsang dan nyimas Rara Santang pun menunaikan ibadah haji ke Mekah. Pada saat itulah nyimas Rara Santang menemukan jodohnya, eorang pembesar Arab. Karena menikah, maka Nyimas pun tidak ikut kembali ke Cirebon.
Sedang Pangeran Walangsungsang sepulang dari melaksanakan haji diminta oleh gurunya untuk membuka lahan dengan maksud membuat perkampungan baru. Lokasi itu merupakan cikal-bakal negeri yang ia cita-citakan. Setelah memilih beberapa lokasi, akhirnya diputuskan perkampungan baru itu akan dibangun di wilayah Kebon Pesisir. (*)

Read previous post:
Sindikat Pencurian Ternak

MASA pandemi corona sepertinya digunakan para penjahat untuk beraksi. Mereka memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan. Sebab, umumnya di tengah situasi sekarang

Close