KISAH KI PANJI MANGUN ONENG (3) – Perang pun Pecah di Alun-alun

Genderang perang ditabuh bertelu-talu mengiringi setiap derap langkah prajurit Tionghoa yang berjalan ke arah utara menuju ke Masjid Al-Udha yang berada di tepi sebuah Alun-alun nan luas membentang.

MANTAN prajurit sandi Demak yang sudah terlatih memberi laporan kepada Panji Mangun Oneng. Bahwa peperangan ini jika saja terjadi hanyalah karena hasutan pihak lain yang sama sekali tidak berkepentingan kecuali hanya mencari keuntungan pribadi.
“Siapa itu?”, bertanya Panji Mangun Oneng.
“Ki Panji tentu sudah bisa meraba, siapa lagi kalau bukan Ki Lurah Brangti?”
Panji Mangun Oneng mengangguk-angguk, masuk akal laporan ini. Sebab Ki Lurah Brangti dulu pernah bersaing dengannya ketika memperebutkan jabatan Lurah Prajurit wiratamtama semasa kerajaan Demak diperintah Raden Fattah dan dialah pemenangnya, ki lurah Brangti kalah. Mungkin ini semacam balas dendam masa lalunya.

Di Tepi Alun-alun sebelah timur pasukan Tionghoa itu berhenti berdiri berjajar-jajar menghadap ke barat ke arah Masjid Al-Udha.
“Panji Mangun Oneng, kamu jangan hanya pandai mencuri barang-barang kami di pasar? Ayolah beradu dada kalau kamu berani!”, tantang Ong Beng Tong dengan suara yang lantang.
Mendengar tantangan itu Ki Suratanilah yang maju membawa perisai dan membawa lembing. Dia dari tengah-tengah Alun-alun dia menjawab, “Ong Beng Tong, mencuri adalah perbuatan dosa dan itu haram bagi kami. Jika barang-barangmu hilang di pasar itu tentu orang lain yang mengambil bukan kami!”, jawab Ki Suratani.

“Kalau itu orang lain? Tunjukkan siapa orangnya?”, jawab Ong Beng Tong.
“Aku tak akan menyebut nama orang lain jika aku tak mengerti buktinya”.
“Kamu tidak akan pernah mengerti buktinya karena yang mencuri adalah orang-orangmu sendiri. Bukankah begitu?”.
“Lalu maumu apa, Beng Tong?”.
“Nih, terimalah ganjaranku untukmu!”, Ong Beng Tong kemudian memerintahkan prajuritnya untuk melepaskan anak panah menyerang Suratani.
Sambil melangkah mundur Suratani melindungi dirinya dengan perisai. Lalu dengan sekuat tenaganya lembingnya dilemparkan ke arah jajaran prajurit-prajurit Tionghoa.
Terdengar teriakan kesakitan begitu kerasnya di antara prajurit Cina, entah siapa yang terkena sasaran lemparan lembing Ki Suratani.

Pertempuranpun terjadilah, mereka memasuki Alun-alun dari arah timur ke barat. Sedangkan prajurit Panji Mangun Oneng menyongsong dari arah barat berhamburan ke timur. Senjata-senjata mereka terayun-ayun siap memakan korban. Pasukan Tionghoa itu agaknya memang sudah terlatih mereka cukup lincah menghadapi gempuran anak buah Panji Mangun Oneng.
Senjata-senjata mereka beradu satu sama lain menimbulkan percikan-percikan api. Ong Beng Tong nampak lincah dan sakti menghadapi keroyokan anak buah Panji Magun Oneng. Melihat prajuritnya pada jatuh menjadi korban Suratani segera mendekati Ong Beng Tong karena Panji Mangun Oneng sudah terlibat peperangan dengan The Kian Jie.

Ong Beng Tong yang berperawakan tinggi besar merasa harus berhati-hati menghadapi Suratani. Meski dia bertubuh kecil dan pendek tetapi mantan prajurit wiratamtama Kerajaan Demak di masa Sultan Trenggono ini sangat lincah dan pandai menghindari serangan lawan sekaligus balik menyerang dengan dahsyatnya. (Akhiyadi)

Read previous post:
Diikuti Kuntilanak Penghuni Kantor

BERSAMA dua temannya Joko dan Toni, Rio harus lembur untuk menyelesaikan proposal acara yang akan diadakan seminggu lagi oleh kantor

Close