BENDERA KYAI WARING (8-HABIS) – Kematian Dua Anak Tak Menyurutkan Ambisi Ki Wanakusuma

Tidak lama kemudian bendera tersebut meluncur lurus ke atas dan jatuh ke bawah lalu membuka. “Hahahaaaaa, akhirnya kita ketemu juga Naya Taruna?” ternyata di dalam bendera yang bentuknya seperti payung mingkup tadi di dalamnya ada orangnya.

NAYA Taruna menarik nafas dalam-dalam, “Ternyata kamu, Wanakusuma? Begitu indahnya permainanmu? Ini tentu karena ilmumu yang berkembang pesat”.
“Lebih indah dari permainanmu bukan? Kau sekedar mengambil kepala anakku lalu kau akui di hadapan rajamu bahwa dirimu yang berhasil membunuh anakku?”.
“Bangsat kamu, Wanakusuma!”, maki Naya Truna. Dengan sekali loncatan yang panjang dia menusukkan tongkat hitamnya ke dada lawannya.
“Wouw, ternyata masih pintar juga kau bermain dengan tongkatmu itu”, kata Wanakusuma menghindari serangan lawannya dengan meloncat mundur sambil memukul ujung tongkat hitam senjata musuhnya.

Naya Taruna tidak mau melepaskan musuhnya, dikejarnya terus sambil senjatanya menyerang ke beberapa bagian tubuhnya.
Wanakusuma menghindari semua serangan lawannya dengan melenting ke atas, menebarkan bendera Kiai Waring selebar-lebarnya. Lalu dengan bendera itu Wanakusuma berusaha ngrukubi lawannya, dia balut sampai Naya Truna tak berdaya terbungkus di dalam bendera.
“Adi Naya Taruna, aku atau kamu tentu sepakat jika diantara kita tidak usah bermusuhan. Bukankah kau adik seperguruanku ketika dulu kita sama-sama berguru di Padepokan Bondan Waringin?”.
“Betul, Kakang”.

“Nah, kerukunan diantara kita akan sangat berarti bagi kita berdua. Sebab kita harus menghimpun kekuatan baru untuk menggantikan kekuatan yang ada di Kartasura. Sekarang ini yang berkuasa di Kartasura adalah keturunan ke 6 dari Ki Gede Pemanahan. Padahal menurut perjanjian antara Ki Gede Pemanahan dengan Ki Ageng Giring disebutkan, bahwa sesudah keturunan ke 7 dari Ki Gede Pemanahan habis masa pemerintahannya. Maka kekuasaan raja penguasa Tanah Jawa harus berganti kepada keturunan Ki Ageng Giring”, kata Wanakusuma.
“Hmmmm, begitu? Kemudian dalam hal ini aku berperan apa?”, tanya Naya Truna.

“Sebagai adik perguruanku untuk sementara kamu membantu aku. Percayalah di kelak kemudian hari kamu pasti akan mendapatkan kedudukan sesuai dengan peranmu. Sebab persiapan yang mesti kita lakukan masih banyak sekali. Salah satu yang terberat adalah Panji Aking sudah berada di sekitar kita?”, kata Wanakusuma menjelaskan.
Naya Taruna terkesiap demi di dengarnya nama Panji Aking. Dia adalah orang sakti yang menguasai berbagai ilmu. Dikhawatirkan Panji Aking akan merusak rencana ini sebab sesungguhnya dialah keturunan dari Ki Ageng Giring itu. Padahal dia merasa tidak pernah menuntut apapun dari kakek moyangnya termasuk kekuasaan.

“Uuuuukh..”, Naya Taruna hanya bisa mengeluh membayangkan proses mewujudkan cita-cita itu hal yang sangat berat. Mestinya dengan kegagalan dan kematian kedua anaknya Wanakusuma harus berpikir ulang. Jangankan merebut kekuasaan Kanjeng Prabu di Kartasura melawan Panji Aking pun belum tentu menang. Padahal menurut perhitunganku, Panji Aking yang kejujuran hampir setingkat dengan Wali itu pasti akan dengan senang hati menghancurkan sandiwara kepalsuan yang telah banyak membawa korban ini.
(Akhiyadi)

Read previous post:
MERAPI-ISTIMEWA Bupati Sleman Sri Purnomo saat menyampaikan keterangan terkait penanganan Covid-19 di Sleman, beberapa waktu lalu.
PUTUS RANTAI COVID-19: Jam Buka Kafe dan Angkringan Dibatasi

SLEMAN (MERAPI) - Pemerintah Kabupaten Sleman mengambil kebijakan untuk membatasi jam buka sejumlah tempat usaha, mulai dari kafe hingga warung

Close