BENDERA KYAI WARING (7) – Bendera Pusaka Itu Tersangkut di Sebatang Bambu

Dipanggil pertama kali menghadap Sinuhun Prabu adalah Ki Naya Taruna, yang berhasil membunuh senopati pemberontak dari Gunung Kidul. Kepada Ki Naya Taruna sebagai penghargaan ingsun angkat menjadi Wedana Pajak dengan gelar Tumenggung Raja Manggala.

PRAJURIT-PRAJURIT yang terdiri dari orang-orang Bugis itupun beramai-ramai memprotes Naya Taruna.
“Sinuwun Prabu. Yang membunuh orang yang kepalanya dipajang di perempatan itu saya, Singa Barong. Bukan Naya Taruna yang tidak ikut berperang hanya memenggal kepala jenazah orang yang sudah mati tanpa membunuhnya”.
Suasana pisowanan jadi gaduh, Naya Taruna mencoba berdalih. Namun Kanjeng Sinuwun terlanjur tidak percaya. Akhirnya pangkat sebagai Wedana Pajak dengan gelar Raja Manggala dicabut oleh Kanjeng Sinuhun.

Tentu saja hal ini membuat marah Naya Taruna. Dia ingin membuat perhitungan dengan Singa Barong. Pimpinan prajurit Kartasura rombongan asal Bugis Makasar itu tidak takut digertak Naya Truna. Bahkan jika akan menantang perang tandingpun akan diladeni.
Naya Taruna berpikir, tandhing yuda melawan Singa Barong tentu bukan hal yang mudah. Ah, penyesalan tentu jatuhya di belakang hari. Kemarin sebelum berbuat rasanya perhitungannya sudah mapan benar, tidak akan ketahuan siapapun. Ternyata kini semua orang justru tahu jika dirinya menipu Sinuwun Prabu. Untung jika tidak jatuh pidana pati lha kalau akhirnya Sinuwun membunuhku atau mengusirku dari kedaton?

Naya Taruna terus berpikir dan berpikir bagaimana caranya mesti menyelesaikan masalahnya. Sampai malampun dia belum menemukan cara yang kreatif dan mathis. Dia duduk termenung di beranda rumahnya. Di langit rembulan bulat tanggal lima belas bulan Jawa bersinar amat terangnya, angin bertiup semilir anyes. Berkali-kali Kelelawar terbang memintas di langit biru bersih. Bercerecet suaranya ketika satu sama lain berebut buah sawo yang digondolnya sambil terbang. Akhirnya buah sawo itu muspro karena jatuh ke tanah tanpa salah satu diantara kelelawar yang berebut itu mendapatkan bagiannya.

Naya Taruna njenggirat kaget. Di langit nampak berkibar bendera, kumleyang dari arah selatan ke utara. Ah, apakah itu berdera pusaka sakti Kiai Waring? Menurut penuturan kakek moyang jaman dulu bendera sakti di miliki oleh Panembahan Bondan Waringin dari daerah Gunung Kidul.
“Siiuuutttttt….” bendera Kiai Waring terbang rendah pas di halaman rumah. Naya Taruna terjingkat dari duduknya. Dia buru-buru mengejar bendera tadi ke arah barat, teruuuus ke barat sampai ke persawahan di sebelah barat desa.
“Hup” bendera berwarna gula kelapa itu tiba-tiba tersangkut di sebatang bambu tengah sawah. Entah untuk apa oleh pemilik sawah sehingga bambu tadi ditancapkan di situ. Bendera Kiai Waring itu pelan-pelan menguncup bentuknya menjadi seperti payung mingkup tinggi dan besar.

Pelan-pelan Naya Taruna mendekatinya dengan langkah hati-hati sekali, tongkat hitamnya dijulurkan untuk menyentuhnya, “Pletheek” terdengar suaranya seperti bara bathok yang mletik.
Tidak lama kemudian bendera tersebut meluncur lurus ke atas dan jatuh ke bawah lalu membuka,
“Hahahaaaaa, akhirnya kita ketemu juga Naya Taruna?” ternyata di dalam bendera yang bentuknya seperti payung mingkup tadi di dalamnya ada orangnya. (Akhiyadi)

Read previous post:
MERAPI-HUMAS SLEMAN Kepala Disperindag Kabupaten Sleman Mae Rusmi Suryaningsih memberikan edukasi kepada pedagang di pasar tradisional.
Pedagang dan Pengunjung Pasar di Sleman Wajib Pakai Masker

SLEMAN (MERAPI) - Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Sleman mengeluarkan kebijakan, bahwa seluruh pedagang dan pengunjung yang masuk area

Close