SALAKANAGARA, KERAJAAN TERTUA DI NUSANTARA (3-HABIS) – Dikelilingi Kerajaan-kerajaan Kecil yang Berkoalisi

SEBAGAI kerajaan besar, Salakanagara pun membawahi kerajaan-kerajaan kecil, yang didirikan oleh orang-orang yang berasal dari dinasti Dewawarman (raja-raja yang memerintah Salakanagara). Kerajaan-kerajaan kecil lain yang berada di sekelilingnya ini mereka berkoalisi. Di antara kerajaan itu bisa jadi bermula dari seorang sesepuh yang dituakan atau yang berpengaruh, pemuka agama atau tuan tanah, hingga dari keturunan Raja Dewawarman sendiri. Kerajaan-kerajaan tersebut memiliki julukan atau sebutan sebagai “Mandala” yang artinya kerajaan atau daerah bawahan.

Di antara kerajaan bawahan itu adalah Kerajaan Ujung Kulon yang lokasinya di wilayah Ujung Kulon. Kerajaan ini didirikan Senapati Bahadura Harigana Jayasakti (adik kandung Dewawarman I). Saat kerajaan ini dipimpin Darma Satyanagara, sang raja menikah dengan putri dari Dewawarman III dan kemudian menjadi raja ke-4 di Kerajaan Salakanagara. Ketika Tarumanagara tumbuh menjadi kerajaan yang besar, Purnawarman (raja Tarumanagara ke-3) menaklukan Kerajaan Ujung Kulon. Akhirnya Kerajaan Ujung Kulon menjadi Kerajaan bawahan dari Tarumanagara. Kelak pasukan Kerajaan Ujung Kulon juga ikut membantu pasukan Wisnuwarman (raja Tarumanagara ke-4) untuk menumpas pemberontakan Cakrawarman.

Ada juga Kerajaan Tanjung Kidul yang beribukota Aghrabintapura, sekarang termasuk wilayah Cianjur Selatan. Kerajaan ini dipimpin oleh Sweta Liman Sakti yang juga adik ke-2 Dewawarman I. Kerajaan Mandala Tanjung Kidul adalah sebuah Kerajaan bercorak Hindu yang di wilayah Selatan Jawa Barat, hingga Cianjur sekarang. Jika dilihat dari kata “Tanjung Kidul” yang berarti “ujung selatan”, maka bisa jadi pada masa kini daerah itu bernama “Ujung Genteng” yang berada di Ciracap, dekat Pelabuhan Ratu, yang pada masa kini masuk Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat.

Kerajaan Agnynusa atau Pulau Krakatau juga menjadi kerajaan bawahan Salakanagara. Kerajaan Mandala Agnynusa memiliki arti Nusa Api atau Negeri Api, yang merupakan kerajaan kuno di Pulau Krakatau, Selat Sunda, atau tepat di kaki Gunung Krakatau. Sayangnya tidak jelas mengenai asal-usul kerajaan di Pulau Krakatau, yang berada di Selat Sunda ini. Pasalnya, peninggalan kerajaan ini musnah karena letusan besar Krakatau pada tahun 1882 yang akhirnya membuat pulau tersebut terpecah-pecah dan menjadi Kepulauan Krakatau.
Kerajaan Aghrabinta di Pulau Panaitan. Kerajaan Mandala Aghra Binta ini bercorak Hindu yang berkuasa di Pulau Panaitan, Selat Sunda dengan ibukota Aghrabintapura. Wilayahnya berada di bagian selatan Selat Sunda sekitar 10 km dari pesisir Ujung Kulon, Pulau Jawa. Dengan panjang sekitar 19 km dan lebar sekitar 12 km, wilayah ini menjadi pulau terbesar di Selat Sunda. Dari data arkeologi di Pulau Panaitan ditemukan arca Siwa, Ganesha dan Lingga Semu/Lingga Patok. Arca Shiwa dari Panaitan ini pernah raib dicuri, namun kemudian berhasil diamankan dan disimpan di Museum Negeri Sri Badhuga, Bandung, dengan nomor inventaris 306.2981. Sayangnya, juga tidak jelas mengenai asal-usul kerajaan Panaitan ini.

Kerajaan Nusamandala atau Mandalanusa di Pulau Sangiang merupakan sebuah kerajaan Hindu berkedudukan di Pulau Sangeang atau sekarang disebut Pulau Sangiang. Pulau ini juga di Selat Sunda, sebelah barat lepas pantai kota kota Cilegon.
Pulau Sangiang sendiri panjangnya sekitar 4,7 km dan lebar 3,5 km. Tidak jelas pula mengenai asal-usul kerajaan di Pulau Sangeang ini. (Ki Bodronoyo)

Read previous post:
Corona Masih Mengancam, Warga Jangan Terlena

Close