SALAKANAGARA, KERAJAAN PALING AWAL DI NUSANTARA (1) – Disebut Sebagai Leluhur Suku Sunda

PADA tahun 130 Masehi, di bumi Nusantara berdiri sebuah kerajaan yang mempunyai pengaruh cukup besar. Kerajaan itu bernama Salakanagara, yang sekarang berada di wilayah Propinsi Banten. Menurut Naskah Wangsakerta – Pustaka Rajyarajya i Bhumi Nusantara (yang disusun sebuah panitia dengan ketua Pangeran Wangsakerta), Salakanegara diperkirakan merupakan kerajaan paling awal yang pernah ada di Nusantara.

Konon, Salakanagara diyakini sebagai leluhur Suku Sunda. Hal tersebut dikarenakan wilayah peradaban Salakanagara sama persis dengan wilayah peradaban orang Sunda selama berabad-abad. Lebih dari itu, ada hal yang memperkuat lagi, yakni kesamaan kosakata antara Sunda dan Salakanagara. Ditemukan pula bukti lain berupa Jam Sunda atau Jam Salakanagara, suatu cara penyebutan Waktu/Jam yang juga berbahasa Sunda.

Ada beberapa ahli dan sejarawan yang membuktikan, bahwa tatar Pasundan memiliki nilai-nilai sejarah yang tinggi. Mereka antara lain Husein Djajadiningrat, Tubagus H. Achmad, Hasan Mu’arif Ambary, Halwany Michrob dan masih banyak lagi. Cukup banyak temuan-temuan mereka yang disusun dalam tulisan-tulisan, ulasan-ulasan maupun dalam buku. Masih ada yang lain seperti John Miksic, Takashi, Atja, Saleh Danasasmita, Yoseph Iskandar, Claude Guillot, Ayatrohaedi, Wishnu Handoko dan lain-lain, yang turut menambah wawasan mengenai Banten menjadi tambah luas dan terbuka dengan karya-karyanya yang dirilis dalam bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris.

Adapun nama-nama raja yang pernah memerintah Kerajaan Salakanagara, adalah Dewawarman I yang memerintah dari tahun 130-168 masehi. Raja ini aslinya merupakan pedagang asal India dan setelah menjai raja memiliki julukan Prabu Darmalokapala Aji Raksa Gapura Sagara. Dilanjutkan putra tertuanya, Dewawarman II atau Prabu Digwijayakasa Dewawarmanputra yangh memerintah tahun 168-195 M.
Pasa tahun 195-238 M giliran bertahna Dewawarman III yang berjuluk Prabu Singasagara Bimayasawirya. Dia merupakan putra dari Dewawarman II. Suksesi berikutnya terjadi tahun 238-252 M denga bertahtanya Dewawarman IV. Ia adalah menantu dari Dewawarman II dengan gelar Raja Ujung Kulon. Menantu Dewawarman IV giliran memegang kekuasaan sepanjang tahun 252-276 M yang juga disebut Dewawarman V.

Pada tahun 276 Dewawarman V gugur saat menghadapi najak laut, sehingga tahta diduduki Mahisa Suramardini Warmandewi. Sang ratu yang berkuasa 276-289 masehi ini merupakan putri tertua Dewawarman IV yang juga istri Dewawarman V.
Putra tertua mereka pun menggantikan posisi sebagai raja tahun 289-308 Masehi. Raja Dewawarman VI ini memiliki julukan Sang Mokteng Samudera. Tahun 308-340 Masehi bertahta Dewawarman VII dengan julukan Prabu Bima Digwijaya Satyaganapati, yang merupakan putra tertua Dewawarman VI. Setelah itu kembali berkuasa seorang ratu. Dia adalah putri sulung Dewawarman VII,
Sphatikarnawa Warmandewi, yang memerintah 340-348 Masehi. Selanjutnya tahun 348-362 Masehi bertahta Dewawarman VIII atau Prabu Darmawirya Dewawarman. Ia merupakan cucu Dewawarman VI yang menikahi Sphatikarnawa. Ternyata Prabu Darmawirya menjadi raja terakhir Salakanagara yang berkuasa penuh, karena sejak 362 Masehi saat Dewawarman IX bertahta kerajaannya telah menjadi kerajaan bawahan Tarumanagara. (Ki Bodronoyo)

Read previous post:
Daun Afrika dan Alpukat Musuh Hipertensi

TAK sedikit tanaman berkhasiat biasa dimanfaatkan bagian daunnya. Cara pemanfaatannya pun beragam, antara lain cukup dijadikan lalapan, direbus, diekstrak dahulu,

Close