BENDERA KYAI WARING (4) – Kiai Pleret Mematahkan Perlawanan Jaya Parusa

Jaya Parusa dan Jaya Lelana segera menyanggupi permintaan ramanya Ki Wanakusuma, membuatkan Jolang dan menyediakan beberapa puluh orang pemanggulnya secara bergantian.

PERJALANAN prajurit dari Gunung Kidul mengular bagai naga raksasa, Jaya Parusa naik kuda berada di ujung pasukan sebagai cucuk lampah dari perjalanan menuju ke Kartasura.
Sedangkan Jaya Lelana berada di tengah juga naik kuda. Ki Wanakusuma naik Jolang dipikul empat orang berada di belakang. Pasukan tambur atau genderang di paling depan memukul alat musik itu keras sekali memberi semangat setiap langkah para prajurit sepanjang perjalanan. Bendera, klebet, rontek, dan umbul-umbul mereka bawa sebagai tanda kebesaran pasukannya. Bunyi tambur berpaduan dengan bendhe, dan nyanyian seruling membentuk irama musik yang serasi “Pung drekdhedhek dhek dhek Pung dredhek dhek Dhil …….”

Hal yang sama sekali tidak diinginkan rakyat adalah setiap pedesaan yang dilewati pasukan itu rusak, porak poranda, harta benda milik rakyat sepanjang jalan dijarah rayah. Karena merasa dirugikan oleh pasukan prajurit dari Gunung Kidul ini maka mereka melaporkan kepada Kanjeng Sinuwun di Kartasura.
“Baiklah, rakyatku semua. Pasukan dari Gunung Kidul itu memang harus kita lawan”, berkata Sinuhun Prabu. Beliau juga segera menyiapkan Bupati-bupati berikut bala prajuritnya. Mereka berkumpul di Alun-alun. Adik Sinuhun Prabu yakni Pangeran Puger juga disuruh siap-siap melawan Senopati perang prajurit dari Gunung Kidul yang akan datang menyerang.
“Sendika dhawuh, Kangmas Prabu,” jawab Pangeran Puger. Dia segera naik ke punggung kuda kesayangannya dengan membawa tombak pusaka Kiai Pleret.

Kanjeng Sinuwun kemudian turun ke Pagelaran. Tidak lama kemudian musuhpun menyerbu ke Alun-alun. Prajurit dari Gunung Kidul yang mengamuk itu dilawan oleh prajurit dari Kartasura bersama para bupati. Perang campuh terjadilah, senjata-senjata mereka saling beradu, menebas, menusuk, dan menggores kulit menimbulkan luka yang menganga. Darah mengucur membasahi bumi pertiwi. Mereka yang memiliki ilmu kanuragan yang memadai dengan gesitnya menangkis dan menghindari serangan lawan. Kemudian dengan ketrampilan yang dimiliki berganti menyerang, meloncat sambil menusuk atau menangkis senjata lawan yang balik menyerangnya.
Jaya Parusa bagai Bantheng ketaton mengamuk sejadi-jadinya tombaknya banyak makan korban prajurit Kartasura. Melihat hal itu Pangeran Puger segera melecut kudanya maju mendekati senopati Perang prajurit Gunung Kidul. “He, Jaya Parusa! Jangan hanya berani mengamuk prajurit-prajurit kecil saja. Inilah tandinganmu” , berkata Pangeran Puger menantangnya.

“Bangsat!”, Jaya Parusa memaki. Wajahnya nampak melotot, galak. Dengan serta merta dia menerjang Pangeran Puger yang duduk di atas punggung kudanya. Tombak pendeknya segera terayun mengancam kepala Pangeran Puger. Adik Kanjeng Sinuhun Prabu inipun dengan kecepatan hindarnya yang mengagumkan membungkukkan badannya sekaligus menusuk tulang rusuk lawannya.
“Aaauuuhhh….”!, terdengar keluhan kesakitan Jaya Parusa. Sebentar kemudian dia jatuh dari punggung kudanya. Selama ini belum pernah ada sesakti dan sekebal apapun ilmu seseorang kuat menahan terjangan tombak Kiai Pleret. Begitu pula dengan tulang iga Jaya Parusa remuk berkeping-keping terkena tusukan tombak pusaka andalan Kerajaan Kartasura itu. (Akhiyadi)

Read previous post:
Grab Bantu 1.000 Makanan untuk Tenaga Medis

Close