ASAL MULA TOMBAK BARU KUPING (3-HABIS) – Lidah Dipotong Berubah Jadi Mata Tombak

“Bapak…, bapak, keluarlah, ini anakmu sudah dewasa, ingin menjengukmu. Keluarlah Bapak…” kata ular itu. Ki Ageng Wonoboyo pun keluar, dan ia terkejut. Sebab ular itu betul-betul sudah dewasa, dan jantan. Di ujung kepalanya ada tanduk warna kuning keemasan.

“AKU tak mungkin punya anak hewan. Sana pergi jauh-jauh, jangan engkau mengaku-aku…,” kata Ki Ageng Wonoboyo. Namun ular itu tetap diam tak mau bergerak sedikit pun.
“Hem, baik, aku akan mengakuimu. Jika kau benar anakku, cobalah kau lingkari puncak Merapi ini. Jika bisa, engkau kuakui sebagai anak,”
“Baik, Pak, lihatlah…,” jawab ular itu sambil terus melesat ke puncak Merapi.

Dan dengan kesaktiannya, badan ular itu pun bisa panjang, hampir dapat membelit puncak Merapi, hanya tinggal sejengkal saja. Maka lidahnya pun terjulur, menggapai ekornya. Namun secepat kilat keris Ki Ageng Wonoboyo memotong lidah itu hingga putus.
“Crap…” lidah itu putus, dan… ular yang mengaku anak Ki Ageng itu pun tewas. Keanehan pun terjadi, dari lidah ular tersebut muncul sebilah mata tombak. Dan oleh Ki Ageng Wonoboyo, mata tombak itu diberi nama Baru Kuping. Sedangkan bangkai ular itu dibuang oleh Ki Ageng Wonoboyo. Tempat jatuhnya bangkai ular itu muncul sebatang pohon yang dibuat gagang tombak oleh Ki Ageng Wonoboyo.
Kelak kemudian, ketika Ki Ageng Wonoboyo meninggal dunia, digantikan oleh putranya, bergelar Ki Ageng Wonoboyo II yang memberontak Negara Mataram dan tewas di tangan Senopati.

Ada versi lain, nama Naga itu bukan Baru Kuping, tetapi Baru Klinting. Naga Baru Klinting mencari ayahnya yang sedang bertapa, mencarinya lewat bawah tanah. Ketika Naga Baru Klinting muncul ke atas tanah, jadilah mata air yang airnya jernih dan tidak pernah kering.

Diantaranya adalah mata air Umbul Pengging di Kabupaten Klaten, dan mata air Sendang Klangkapan di Kabupaten Sleman, yang terjadi karena badan ular Naga Baru Klinting mencari Ki Ageng Wonoboyo. Demikian yang terjadi Kisah Asal Mula Tombak Kiai Baru Klinting atau Baru Kuping. (Tri Wahyono)

Read previous post:
Lancarkan Peredaran Darah dengan Kencur

SEJUMLAH tanda manusia bisa bersahabat dengan alam, misalnya tak menyiak-nyiakan, berusaha melestarikan dan memanfaatkan sebaik mungkin suatu tanaman berkhasiat obat

Close