MISTERI DUA BANGSAWAN GUNUNG SENTANA (2) – Jenazahnya Ditemukan di Kedhung yang Wingit

Kyai Jagaraga dan Jagaranu ditempukan tewas di tempuran Kali Opak dan Kali Oya. Mereka diduga sebagai bangsawan yang meninggal karena menjalani laku spiritual. Setelah dientas dari tempuran, jenazahanya dimakamkan di pelataran atas Gunung Sentana, tak jauh dari tempuran Kali Opak dan Oya.

DENGAN ditemukannya kedua jenazah ini kemudian disiarkan kemana-mana dengan harapan mungkin ada sanak familinya yang mengenalinya. Namun sampai beberapa hari pengumuman itu dilaksanakan, tidak ada seorang pun yang mengaku kenal dengan kedua tokoh yang telah meninggal itu.
Oleh karena itu warga Putat akhirnya mengambil keputusan untuk memakamkan keduanya di atas Bukit Sentana, tidak jauh dari tenpuran Sungai Opak dan Sungai Oya.
Sumber setempat juga menyebutkan kemungkinan besar ketika kedua tokoh ini melarikan diri dari Majapahit tidak dalam keadaan sehat, melainkan dalam keadaan tubuh menderita luka-luka.

Dalam keadaan luka-luka mereka melarikan diri sambil menjalani laku tapa brata. Diduga mereka melarikan diri dari Majapahit karena Majapahit saat itu sedang dilanda perang saudara yang berkepanjangan.
Salah satu sebab peperangan ini adalah karena perkembangan agama baru. Kedua tokoh tidak bersedia memeluk agama baru sehingga memilih menyingkir hingga wilayah Bantul dan bahkan kemudian meninggal di Bantul.

Ketika pelarian mereka sampai di wilayah Bantul mereka kemudian menyusuri Sungai Opak sekaligus bermatiraga dengan menghanyutkan diri pada aliran sungai. Apa yang mereka lakukan tampaknya tidak didukung dengan kekuatan jasmani yang memadai sehingga mereka kemudian meninggal dan tersangkut di tempuran sungai.
Tempuran Sungai Opak-Oya ini hingga sekarang dikenal sebagai tempat yang dianggap wingit. Pada tempuran ini terdapat pumpunan air yang dalam dan cukup luas yang dinamakan kedhung. Bahkan banyak juga yang percaya bahwa di dasar kedung ini terdapat sebuah lubang atau terowongan yang terhubung dengan Pantai Selatan (Parangtritis). Terowongan dan kedhung ini sering pula dianggap sebagai jalan mistis yang menghubungkan kedhung tersebut dengan Keraton Ratu Kidul.

Banyak kejadian aneh dengan keberadaan kedhung ini. Di antaranya jika ada orang hanyut di Sungai Opak atau Oya maka jenazahnya umumnya akan tersangkut di kedhung ini. Jika jenazah dapat ditemukan di kedhung ini, artinya jenazahnya tidak dikehendaki oleh Ratu Kidul. Akan tetapi jika jenazahnya tidak diketemukan di kedhung ini maka ada kepercayaan bahwa jenazah orang yang bersangkutan dikersakake ‘dikehendaki’ Ratu Kidul. Hal ini oleh masyarakat setempat dikenal dengan istilah kalap atau diambil oleh kekuatan gaib (Ratu Kidul).

Ketika jenazah kedua tokoh di atas diketemukan di kedhung ini, maka kesimpulan yang diambil adalah bahwa jasad keduanya tidak dikehendaki Ratu Kidul. Mereka tidak dikehendaki untuk memasuki lingkungan keraton gaib milik Ratu Kidul. Oleh karena itu, jenazah pun diambil dari kedhung dan dikebumikan di Gunung Sentana.
Pasca penguburan jenazah kedua tokoh ini ada seseorang yang melakukan tirakat di kuburan keduanya. Entah pada hari atau malam keberapa orang tersebut mendapatkan mimpi (wisik). (Albes Sartono)

Read previous post:
Bakmi Diboking Warga Kampung Klipang

MANG Udin pedagang bakmi keliling di kampung Pedurungan. Sudah 20-an tahun menekuni usaha hingga saat ini. Ia beroperasi hingga larut

Close