CINTA SEHIDUP SEMATI PANGERAN TIMUR DAN RARA MANGLI (1) – Memilih untuk ‘Mbalela ing Ratu’

SEPULANG menghadap raja Mataram Sinuhun Amangkurat Agung, dan diberitahu tentang kelicikan Ki Tumenggung Pasingsingan yang ingin melakukan pembunuhan kepada raja, Pangeran Timur legeg ing penggalih. Apalagi oleh raja ditanting untuk membunuh Rara Mangli karena dianggap sumber keonaran.

Namun kepada raja yang notabene adalah raka dalem, Pangeran Timur menyatakan sanggup, karena semua itu adalah rencana Ki Tumenggung Pasingsingan sendiri. Dirinya tidak mau dilibatkan, namun mengakui kalau betul-betul cinta dan suka kepada Rara Mangli. Apakah kesanggupan di hadapan raja untuk membunuh Rara Mangli terlaksana?

Dalam Babad Tanah Jawa diceriterakan, semula Pangeran Timur mantap ingin melaksanakan tugas apa yang diminta raja sebagai hukuman. Namun begitu berhadapan dengan Rara Mangli, seketika reda amarahnya. Apalagi Rara Mangli dengan bujuk rayu yang memalatsih, bahkan mengatkan apabila usaha Ki Tumenggung Pasingsingan itu berhasil, toh panjenenganipun Pangeran Timur yang akan menikmati hasilnya.

Tanpa ragu, Rara Mangli dipeluk erat, bahkan berjanji sampai kapanpun tidak akan membuat celaka wanita yang dicintai ini. Pangeran Timur bersumpah, kan membela kematian Ki Tumenggung Psingsingan dan akan membawa mukti Rara Mangli. Untuk jangankan sakit, hingga mati pun, dirinya tetap akan berada di pihaknya. Tekadnya, Sinuhun Amangkurat Agung meskipun masih saudara kandung, raka dalem harus dibunuh demi cita-cita berdua.

Dalam pisowanan di Kraton Mataram, Sinuhun Amangkurat Agung sendiri nampak galau, begitu mendengar kalau Pangeran Timur adiknya ternyata memilih mbalela ing ratu Mau dilawan adalah saudara sedarah sendiri, tidak dilawan adalah musuh yang ingin memberontak Mataram. Pangeran Sepuh Purubaya melihat hal itu, segera memberikan petunjuk. Sebagai sabda pandhita ratu, datan kena wola-wali, maka Sinuhun Amangkurat Agung harus segera memutuskan tindakan apa yang harus dilakukan prajurit Mataram. Kepada sesepuh Mataram itu, diperintahkan untuk ngrangket Pangeran Timur, namun jangan sampai tubuhnya cedera sedikit pun, apalagi sampai tewas. Kalau terjadi busik badane apalagi sampai tewas, siapa saja yang melakukan akan menerima hukuman yang berat.

Meski berat, Pangeran Sepuh Purubaya meneruskan sabda pendhita ratu tersebut kepada senapati Mataram. Akhirnya didapat akal, yang akan menangkap Pangeran Timur adalah Pangeran Sepuh Purubaya sendiri, sedang para pembantu atau sekongkol-nya diserahkan kepada para prajurit untuk menumpas tuntas.

Prajurit Pangeran Timur yang mau ngraman bertemu dengan prajurit Mataram, terjadilah pertempuran sengit, thawur gedhen membuat banyak yang luka hingga tewas bagi kedua belah pihak. Pangeran Timur sendiri lantas ngamuk punggung dengan keris pusaka di tangan, banyak korban prajurit Mataram berjatuhan. Melihat kenyataan itu Pangeran Sepuh Purubaya mencoba mengendalikan suasana dengan meminta Pangeran Timur bersabar, jangan emosi, dan diajak sowan bebarengan kepada rajan untuk minta maaf.

Pangeran Timur yang sudah kebrongot atine, tidak menggubris apa yang diucapkan eyang sepuhnya. Terjadilah perang tandhing antara Pangeran Sepuh Purubaya dengan Pangeran Timur. Dengan keris pusaka ditangan, lagi-lagi Pangeran Timur menyerang Pangeran Sepuh Purubaya. Anehnya, orang tua itu tidak membalas ketika tubuhnya ditusuk keris pusaka Pangeran Timur berkali-kali tidak busik kulite, bahkan tidak dibuat rasa. Pangeran Timur malu dengan kenyataan itu, maka segera lari meninggalkan Pangeran Sepuh Purubaya. Karena ingin menangkap Pangeran Timur melukai tubuhnya, kemana larinya terus dikejar oleh Pangeran Sepuh Purubaya yang tindake wis gruyah-gruyuh. Prajurit Mataram yang membantu tidak berani menangkap Pangeran Timur, takut terjadi luka. Bisanya hanya menyoraki kemana larinya Pangeran Timur, mbebeda utawa mbebidungkemana saja. Karena terkepung prajurit Mataram dan Pangeran Sepuh Purubaya mendekat, lagi-lagi keris pusaka ditusukkan ketubuh eyang sepuh namun tetap mendat. Tidak tahan menahan malu, akhirnya keris pusaka itu ditusukkan ke tubuhnya sendiri, tepat ulu hati dan darah segar memancar dari tubuh sang pangeran tewas mengenaskan bunuh diri.(Ki Sabdo Dadi)

Read previous post:
Penampakan Gadis Berkaca Mata Tebal

SETIAP kali ada kegiatan kampus, biasanya Aditya seorang pemuda mahasiswa tingkat akhir asal Palembang, selalu nglembur. Tak jarang sampai nginep

Close