DEWI RANTAMI DAN JAKA WACANA (11-HABIS) – Tak Pernah Berharap Duduk di Dampar Keprabon

Bagaimanapun Dewi Rantami ini meski hanya anak angkat, namun tetap anak seorang Ratu yang memiliki kekuasaan dan wewenang di seluruh wilayah Majapahit. Sedang Jaka Wacana merasa dirinya tidak lebih dan tidak kurang hanyalah seorang anak pidak pedarakan yang dinunutkan hidup di sebuah Padepokan.

BETAPAPUN besar cinta yang dia miliki dan disambut hangat oleh Dewi Rantami, mereka berdua tetaplah tergantung pada kemurahan Kanjeng Ratu Dyah Suhita. Kapankah mereka berdua bisa mendapatkan kepastian semua itu?
Masih menunggu beberapa bulan lagi. Sebab Eyang Mpu Yasaprana bersama Kanjeng Ratu Dyah Suhita rencananya baru akan datang ke padepokan Gunung Cangkerep awal tahun depan.
Hal yang menggembirakan hati Jaka Wacana karena dia mendengar kabar dari Dewi Rantami. Jika Kanjeng Ratu Dyah Suhita pernah mengatakan, wilayah Gunung Cangkerep kelak akan dijadikan Tanah Perdikan yaitu daerah yang dibebaskan dari kuwajiban membayar upeti.

“Dewi, apa rencana Kanjeng Ratu Dyah Suhita menjadikan daerah ini Tanah Perdikan Cangkerep itu kelak akan betul-betul dilaksanakan?”, tanya Jaka Wacana.
“Mudah-mudahan saja, Kangmas. Sebab rencana itu seperti sudah matang”, jawab Dewi Rantami.
“Matang bagaimana?”.
“Ibu Ratu sudah sampai pada rencana akan menikahkan kita”.
“Wouw? Sungguh?”.
“He.eh. Bahkan di Tanah Perdikan Cangkerep nama pemimpinnya juga sudah disiapkan”.
“O, siapa itu?”

“Ki Gede Taruna Dipa”.
“ Ki Gede Taruna Dipa? Siapa itu, Dewi?”.
“Itu nama tua dari Jaka Wacana, paham?”, kata Dewi Rantami tersenyum memandangi lelaki yang ia cintai.
Jaka Wacana mengangguk-anggukkan kepalanya membalas senyuman itu. Diraihnya tangan Dewi Rantami, digenggamnya erat-erat jemarinya. Mereka saling berpandangan, mesra.
“Kangmas, ada satu pesan dari Ibu Ratu yang harus kita ingat selama hidup”, lirih Dewi Rantami membisikkan kata-kata itu dekat sekali di telinga Jaka Wacana.
“Pesan apakah itu, Dewi?”

“Aku hanya anak angkat dari Ibu Ratu Dyah Suhita tidak lebih dan tidak kurang”.
“Ya. Lalu?”
“Kita berdua tidak boleh mengharapkan kursi tahta atau dampar keprabon kerajaan Majapait sampai kapanpun. Biarlah mereka-mereka yang lebih berhak untuk duduk di kursi tahta itu. Kamu harus mengerti dan maklum”, Dewi Rantami menjelaskan panjang lebar tentang dirinya dan Kanjeng Ratu Dyah Suhita sebagai orang tua angkatnya.
“He.eh, aku mengerti. Kelak aku harus sudah merasa cukup hidup bersamamu dengan sebutan Ki Gede Taruna Dipa. Akan kupimpin kawula di daerah ini untuk membangun Tanah Perdikan Gunung Cangkerep menjadi daerah yang makmur”, jawab Jaka Wacana penuh keyakinan yang mantap.
Dewi Rantami tersenyum bangga, ia yakin dan percaya kekasihnya kelak akan dapat mewujudkan impiannya. Apalagi dengan status Tanah Perdikan maka daerah ini tidak dibebani kuwajiban membayar upeti. Sehingga semua kemakmuran Tanah Perdikan ini digunakan sebanyak-banyaknya untuk kepentingan warganya. (Akhiyadi)

Read previous post:
JUMLAH PASIEN POSITIF JADI 4-Warga Yogya Terjangkit Corona Usai Seminar di Bogor

YOGYA (MERAPI)- Juru bicara Pemda DIY untuk Penanganan Covid-19, Berty Murtiningsih mengatakan ada tambahan 2 pasien positif Covid-19 di Yogyakarta.

Close