DEWI RANTAMI DAN JAKA WACANA (6) – Kaget Mendapat Hadiah yang Banyak dan Bagus

Dayang Cuplik Darini dan Nyi Mangli bergegas-gegas turun ke dasar kolam. Mereka berdua ingin membantu sang Putri. Dipungutlah ujung kain sang Dewi Rantami yang basah namun masih nampak bersih itu untuk menyeka-nyeka kedua pelupuk matanya.

“MASIH terasa pedas tidak, Putri?”, tanya Cuplik Darini.
Dewi Rantami mencoba mengedip-ngedipkan matanya, “Tidak, tidak terasa pedih. Sudah enakan kok sekarang. Kangmas Jaka Wacana, sekarang kamu yang menyeka-nyeka mataku agar lebih terasa lembut daripada sekaannya Cuplik Darini!”, pintanya.
Cuplik Darini mencibirkan bibirnya, “Silakan Kangmas Jaka, sekaanmu yang lebih lembut!”
Jaka Wacana tersenyum melihat wajah Cuplik Darini yang menampakkan aura sebelnya, “Dewi, cobalah buka matamu lebih lebar lagi! Barangkali masih ada segelintir pasir yang tersisa kita bersihkan sekalian!”, pinta Jaka Wacana.

Dewi Rantami lalu membuka lebar-lebar matanya, “Lho? lho? lho? itu di langit kok ada matahari? Di sana pohon beringin? Wah, aku bisa melihat, aku bisa melihat!. Sakit mataku kini sudah sembuh!”, Dewi Rantami berseru-seru kegirangan karena kini sudah bisa melihat lagi.
Kedua dayang pemomong itupun turut bergembira karena putri momongannya kini sudah tidak tunanetra. Hal ini jelas aka lebih memudahkan kerja mereka dalam meladeninya sehari-hari tidak harus menuntun kesana-kemari maupun mengambilkan ini itu dan sebagainya.

***

Kanjeng Ratu Dyah Suhita sangat gembira hatinya karena putri angkat yang begitu beliau sayangi kini telah sembuh penglihatanya, pulih kembali seperti layaknya gadis yang normal. Berkali-kali Ratu yang tidak dikaruniai anak kandung itu mengucap syukur dan terima kasih kepada yang Maha Kuasa.
Siang itu Jaka Wacana dipanggil menghadap sendirian tidak boleh ada pengawal yang menyertainya. Seperti biasanya Putri Dewi Rantami duduk di samping Ibunda Ratu, tongkat hitam galih asem juga masih tersandar di dekat tempat duduknya.
“Jaka Wacana, Ingsun ucapkan banyak terima kasih atas jasamu menolong putriku” kata Kanjeng Ratu mengawali perbincangan.
“Maksud Kanjeng Ratu? Bukankah Putri Dewi Rantami menolong dirinya sendiri? Begitu kan Dewi?”, jawab Jaka Wacana sambil mengalihkan pembicaraan kepada Putri Dewi Rantami.

“Ah, Kangmas kok begitu suka merendahkan diri? Bukankah kedua mataku bisa melihat setelah Kangmas mengusapnya dengan lembut? Lalu membasahinya dengan air bening? Lalu kotoran berupa pasir dan lumpur keluar dari mataku? Lalu aku bisa melihat matahari di langit? Ah, apa benar jika Kangmas tidak berbuat apa-apa kepadaku?”, kata Dewi Rantami tersenyum memandangi Jaka Wacana.
“Baiklah. Apapun yang kamu lakukan kepada anakku, Jaka Wacana. Ibu mengucapkan banyak terima kasih. Nah, lihatlah barang-barang yang ada di sekeliling tempat ini semuanya kuhadiahkan untukmu sebagai tanda syukurku, terimalah!”
Dheg. Jantung Jaka Wacana serasa berhenti berdetak, dia gemetar. Selama hidupnya dia belum pernah menerima pemberian sebanyak ini. Apalagi barang-barang itu terdiri dari barang-barang yang mahal harganya.
“Kangmas Jaka Wacana, kenapa Kangmas diam saja? Bukankah Ibunda Ratu baru saja menyerahkan hadiah untukmu?”, tanya Dewi Rantami.
“O i ya iya. Te te terima kasih, Kanjeng Ratu”, jawab Jaka Wacana terbata-bata didera keharuan yang menyesak di rongga dadanya. (Akhiyadi)

Read previous post:
MERAPI-ANTARA Hamam Hadi saat diskusi dengan tema "Covid-19 Terus Berekskalasi Dalam Negeri dan Telah Dinyatakan Sebagai Pandemi : Apa Yang Harus Dilakukan?"
AHLI GIZI UGM: Pemerintah dan Masyarakat Harus Bersama Tangkal COVID-19

BANTUL (MERAPI) - Ahli gizi Universitas Gadjah Mada (UGM) Hamam Hadi, mengajak semua pihak mulai dari pemerintah, pemangku kepentingan dan

Close