DEWI RANTAMI DAN JAKA WACANA (2) – Majapahit Dilanda Musim Kemarau Panjang

Dewi Rantami bisa memahami penjelasan Tumenggung Witadipa, bahwa pembangunan kolan di Keputren masih menunggu orang yang bisa menemukan mata air. Kanjeng Ratu juga menasihati putrinya itu agar bersabar, karena semua sedang diupayakan.

ESOK paginya, langit nampak cerah satu per satu embun mencair meleleh melewati ujung dedaunan lalu menetes jatuh di permukaan tanah kering berdebu hilang tak berbekas. Inilah potret musim kemarau panjang yang memprihatinkan. Di berbagai wilayah Kerajaan Majapahit kawula sulit mencari air karena sungai-sungai mengering dan mataair-mataair juga mengering.
Saat itulah Mpu Yasaprana disertai Tumenggung Wiradipa sedang berjalan-jalan melihat-lihat suasana perkampungan tidak begitu jauh dari lingkungan keraton. Kampung inipun tidak luput dari ancaman kekeringan sungguh merupakan penderitaan kawula Majapahit yang mesti harus dicarikan penyelesaiannya.
“Kakang Yasaprana, lihatlah itu dari kejauhan. Seseorang memacu kudanya cepat sekali. Taukah kamu siapa dia?”, tanya Tumenggung Wiradipa.

“Hmmmm. Agaknya itu cucuku, Adi Tumenggung”, jawab Mpu Yasaprana tidak pangling dengan cucunya meski masih di kejauhan, “Harapanku, dia nanti bisa mencarikan mata air baik untuk kolam Taman Keputren maupun untuk kepentingan para kawula Majapahit”.
“Wouw, diakah Jaka Wacana yang engkau ceritakan kemarin itu?”.
“Ya. Agaknya Eyangnya di Padepokan Gunung Cangkerep menyegerakan anak itu untuk lekas-lekas memenuhi panggilan Kanjeng Ratu”.

“Siapakah yang datang ke Padepokan Gunung Cangkerep mengundangnya?”.
“Panji Wilanggeni. Prajurit sandi kepercayaan Kanjeng Ratu itu juga dalam rangka tugas nganglang tlatah praja mengawasi daerah-daerah kekuasaan Majapahit yang berada jauh dari pusat pemerintahan”.
“Oooo, begitu?”
Mpu Yasaprana lalu memanggil seorang pekathik, “Ikut aku!”, perintahnya.
“Kemana Eyang Mpu?”
“Yang berkuda dari sana itu cucuku. Nanti kudanya kamu bawa ke Gedhogan, dirawat sebaik-baiknya. Cucuku akan menghadap Kanjeng Ratu dan mungkin beberapa hari akan berada di sini”.

“Ya ya ya, Eyang Mpu”, jawabnya. Setelah kuda tadi mendekat dan penunggangnya meloncat turun pekathik itu segera meminta kendali kuda untuk dituntun ke kandang kuda yang berada jauh di belakang gapura samping kiri.
“Mari mari, Ngger! Silakan!”, Tumenggung Wiradipa mempersilakan anak muda yang baru saja datang tersebut.
“Ya, Paman. Terima kasih. Kenalkan, aku Jaka Wacana cucu dari Mpu Yasaprana”, kata anak muda ganteng dan bertubuh kokoh itu.

“He.eh. Eyangmu sudah banyak bercerita tentang kamu kepadaku”.
Jaka Wacana tersenyum, “Syukurlah kalau begitu, Paman”.
“Kulup, sekarang sajalah kamu aku ajak menghadap Kanjeng Ratu. Sebab besuk ada pisowanan ageng tentu beliau tidak akan sempat menemui kita berdua”, kata Mpu Yasaprana.
“Ya, Eyang. Aku menurut saja, toh aku memang belum mengerti keadaan di sini?”.
Mereka berdua kemudian meninggalkan Tumenggung Wiradipa akan menghadap Kanjeng Ratu Dyah Suhita.
“Kulup, duduklah di sini dulu!”, kata Mpu Yasaprana. Lalu dia menemui seorang Gandek yaitu prajurit penghubung dengan Kanjeng Ratu jika ada seseorang yang akan menghadap.
“Baiklah, Mpu Yasa. Aku menghadap Kanjeng Ratu dulu memintakan izin jika Mpu bersama cucunya akan sowan untuk suatu kepentingan tertentu”.
“He.eh, aku tunggu di sini”. (Akhiyadi)

Read previous post:
Tahun 2019, Kekerasan Terhadap Anak Ada 144 Kasus

SLEMAN (MERAPI) - Kekerasan terhadap anak di Kabupaten Sleman pada tahun 2019 masih dinilai tinggi karena terdapat sekitar 144 kasus.

Close